Perkembangan Bahasa Milestone

Perkembangan Bahasa Milestone

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel sel tubuh, jaringan tubuh, organ organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing masing dapat memenuhi fungsinya.

Sejak dahulu masalah perkembangan anak telah mendapat perhatian. Berbagai tulisan mengenai perkembangan anak telah dibuat. Menurut ilingworth, ulasan yang pertama kali dibuat mengenai perkembangan anak adalah yang dibuat oleh tiedeman dari jerman (1787) yang mencatat perkembangan dari seorang anak. Kemudian charles darwin (1877) mempublikasikan secara detail perkembangan salah satu dari 10 anaknya pada tahun 1931 shirley melaporkan perkembangan 25 anak secara lengkap.

Pada saat ini berbagai metode deteksi dini untuk mengetahui gangguan perkembangan anak telah dibuat. Demikian pula dengan skrining untuk mengetahui penyakit penyakit yang potensial dapat mengakibatkan gangguan perkembangan anak. Karena deteksi dini kelainan perkembangan anak sangat berguna, agar diagnosis maupun pemulihannya dapat dilakukan lebih awal, sehingga tumbuh kembang anak dapat berlangsung seoptimal mungkin. Sayangnya banyak ahli kesehatan yang percaya bahwa tidak banyak yang dapat dikerjakan untuk mengatasi kelainan ini dan mereka percaya pula bahwa kelainan yang ringan dapat normal dengan sendirinya. Sikap seperti ini dapat menghambat pemulihannya, bahkan pada kasus kasus tertentu dapat mengakibatkan cacat yang permanen, yang seharusnya dapat dihindari.

Penting untuk dipahami bahwa dengan skrining dan mengetahui adanya masalah pada perkembangan anak, tidak berarti bahwa diagnosis pasti dari kelainan tersebut telah ditetapkan. Skrining hanyalah prosedur rutin dalam pemeriksaan tumbuh kembang anak sehari hari, yang dapat memberikan petunjuk kalau ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian. Sehingga masih diperlukan anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik yang teliti dan pemeriksaan penunjang lainnya agar diagnosis dapat dibuat, supaya intervensi dan pengobatan dapat dilakukan sebaik baiknya. 1

Periode penting dalam tumbuh kembang adalah masa balita. Karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan bahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan moral beserta dasar dasar kepribadian juga dibentuk pada masa ini. Sehingga setiap penyimpangan perkembangan sekecil apapun pada masa ini akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia kelak dikemudian hari. 1

Pada perkembangan anak terdapat masa kritis, dimana diperlukan rangsangan/stimulasi yang berguna agar potensi berkembang, sehingga perlu mendapat perhatian. Perkembangan psikososial sangat dipengaruhi lingkungan dan interaksi antara anak dengan orang tua dewasa lainnya. Perkembangan anak akan optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangannya, bahkan sejak bayi masih dalam kandungan. Sedangkan lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangan anak.

TUJUAN PENILAIAN PERKEMBANGAN

Tujuan dari penilaian perkembangan anak adalah agar para tenaga kesehatan1 :

1. Mengetahui kelainan perkembangan anak dan hal hal lain yang merupakan resiko terjadinya kelainan perkembangan tersebut.

2. Mengetahui berbagai masalah perkembangan yang memerlukan pengobatan konseling genetik.

3. Mengetahui kapan anak perlu dirujuk ke senter yang lebih tinggi.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ANAK

Masa lima tahun pertama merupakan masa terbentuknya dasar dasar kepribadian manusia, kemampuan berfikir, pengindraan, keterampilan berbahasa dan berbicara, bertingkah laku sosial dan lain-lainnya.

Ada dua faktor yang mempengaruhi proses tumbuh kembang optimal seorang anak, yaitu:

· faktor dalam

Yaitu faktor faktor yang ada pada diri anak itu sendiri baik faktor bawaan maupun faktor yang diperoleh, termasuk disini antara lain:

o Hal hal yang diturunkan dari orang tua, kakek nenek atau generasi sebelumnya. Misalnya warna rambut dan bentuk tubuh.

o Unsur berfikir dan kemampuan intelektual. Misalnya kecepatan berfikir.

o Keadaan kelenjar zat-zat dalam tubuh. Misalnya: kekurangan hormon yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.

o Emosi dan sifat-sifat (temperamen) tertentu. Misalnya: pemalu, pemarah, tertutup, dan lain lain.

· Faktor luar

o Keluarga

Sikap dan kebiasaan keluarga dalam mengasuh dan mendidik anak, hubungan orang tua dengan anak, hubungan antara saudara, dan lain-lain.

o Gizi

Kekurangan gizi dalam makanan menyebabkan pertumbuhan anak terganggu yang akan mempengaruhi perkembangan seluruh dirinya.

o Budaya setempat

Asuhan dan kebiasaan dari suatu masyarakat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Misalnya kebersihan lingkungan, kesehatan, pendidikan.

o Teman bermain dan sekolah

Ada tidaknya teman bermain. Tempat dan alat bermain, kesempatan pendidikan disekolah, akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

ASPEK PERKEMBANGAN ANAK

Pencapaian suatu kemampuan pada setiap anak bisa berbeda beda, namun demikian ada patokan umur tentang kemampuan apa saja yang perlu dicapai seorang anak pada umur tertentu. Adanya patokan tersebut dimaksudkan agar anak yang belum mencapai tahap kemampuan tertentu itu perlu dilatih berbagai kemampuan untuk dapat mencapai perkembangan yang optimal.5 Ada 4 aspek yang perlu dibina dalam menghadapi masa depan anak, yaitu:

1. Perkembangan motorik kasar dan motorik halus

Yang dimaksud gerakan (motorik) adalah semua gerakan yang mungkin dilakukan oleh seluruh tubuh.

Perkembangan motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh, dan perkembangan tersebut erat kaitannya dengan perkembangan pusat motorik anak. Pada anak, gerakan ini dapat secara lebih jelas dibedakan antara gerakan motorik kasar dan halus.

Disebut motorik kasar bila gerakan yang dilakukan melibatkan sebagian besar bagian tubuh dan biasanya memerlukan tenaga karena dilakukan oleh otot otot yang lebih besar. Contohnya gerakan telungkup, gerakan berjalan, gerakan berlari.

Disebut motorik halus bila hanya melibatkan bagian bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot otot kecil, karena itu tidak begitu memerlukan tenaga. Gerakan halus ini memerlukan koordinasi yang cermat. Contohnya gerakan mengambil benda dengan hanya ibu jari dan telunjuk, gerakan memasukkan benda kecil ke dalam lubang, membuat prakarya.

Melalui latihan latihan yang tepat gerakan gerakan kasar dan halus ini dapat ditingkatkan dalam hal keluwesan, kecepatan dan kecermatan. Sehingga secara bertahap seorang anak akan bertambah terampil dan mahir melakukan gerakan gerakan yang diperlukan guna penyesuaian dirinya.

2. Komunikasi aktif dan pasif

Sebagai mahluk sosial anak akan selalu berada diantara atau bersama orang lain, agar dicapai saling pengertian maka diperlukan kemampuan berkomunikasi. Pada bayi kemampuan berkata kata atau komunikasi aktif ini belum dapat dilakukan, ia menyatakan perasaan dan keinginannya melalui tangisan dan gerakan. Meskipun demikian, komunikasi dengan orang lain tetap dapat terjadi karena ia mengerti ucapan ucapan orang lain.

Kesanggupan mengerti dan melakukan apa saja yang diperintahkan oleh orang lain disebut sebagai komunikasi pasif. Komunikasi aktif dan komunikasi pasif perlu dikembangkan secara bertahap, anak dilatih untuk mau dan mampu berkomunikasi aktif (berbicara, mengucapkan kalimat kalimat, bernyanyi dan bentuk ucapan lisan lainnya) dan komunikasi pasif (anak mampu mengerti orang lain).

3. Perkembangan kecerdasan (kognisi)

Pada balita kemampuan berfikir mula mula berkembang melalui kelima indra, misalnya melihat warna warna, mendengar suara atau bernyanyi, mengenal rasa. Melalui kata kata yang didengar dan diajarkan, ia mengerti bahwa segala sesuatu itu ada namanya. Daya fikir dan pengertian mula mula terbatas pada apa saja yang konkrit, yang dapat dilihat, dipegang atau dimainkan. Melalui bermain main serta latihan latihan yang diberikan oleh orang tua atau orang lain, setahap demi setahap anak akan mengenal, mengerti lingkungannya dan memiliki kemampuan merencanakan persoalan. Semua konsep atau pengertian ini kemudian meningkat sehingga memungkinkan anak untuk melakukan pemikiran pemikiran ke tingkat yang lebih tinggi, lebih abstrak, dan lebih majemuk, misalnya mengerti dan menggunakan konsep sama berbeda, bertambah berkurang, sebab akibat dan lain lain.

4. Perkembangan kemampuan menolong diri sendiri dan tingkah laku sosial

Pada awal kehidupannya seorang anak bergantung pada orang lain dalam hal pemenuhan kebutuhannya (misalnya makanan, pakaian, kesehatan, kasih sayang, pengertian rasa aman dan kebutuhan akan perangsangan mental, sosial dan emosional)

Kebutuhan kebutuhan anak berubah dalam jumlah maupun derajat kualitasnya sesuai dengan bertambahnya umur anak. Dengan makin mampunya anak melakukan gerakan motorik, anak terdorong melakukan sendiri berbagai hal dan terdorong untuk bergaul dengan orang lain selain anggota keluarganya sendiri. Orang tua harus melatih usaha mandiri anak, mula mula dalam hal menolong kebutuhan anak itu sendiri sehari hari, misalnya makan minum, buang air kecil dan sebagainya.

Kemampuan kemampuan ini makin ditingkatkan sesuai dengan bertambahnya usia, anak perlu berkawan, luas pergaulan harus dikembangkan pula, dan anak perlu diajar untuk aturan aturan disiplin, sopan santun dan sebagainya agar tidak canggung dalam memasuki lingkungan baru.

PENYIMPANGAN PERKEMBANGAN ANAK

Meskipun beberapa keterlambatan perkembangan pada perkembangan milestone bahasa, motorik, atau sosial adaptif dapat bersifat sementara, keterlambatan perkembangan pada usia dini sangat erat hubungannya dengan diagnosis dari disabilitas perkembangan seperti retardasi mental, serebral palsi, gangguan bicara, autis dan kesulitan belajar pada perkembangan anak lebih lanjut. Terlebih lagi, adanya bukti bahwa identifikasi dini dan penanganan anak dengan kondisi perkembangan yang terganggu dapat meningkatkan hasil akhir secara fungsional dan menurunkan resiko dari masalah tingkah laku sekunder.

Kemampuan berbicara dan berbahasa telah dipertimbangkan oleh para ahli sebagai indikator yang baik terhadap perkembangan anak secara keseluruhan dan kemampuan kognitif yang berhubungan dengan keberhasilan pendidikan. Identifikasi anak dengan keterlambatan perkembangan atau masalah yang berkaitan dapat mengarahkan kepada intervensi ketika usia dini dimana kemungkinan untuk perbaikan paling baik.

Penilaian perkembangan anak meliputi identifikasi masalah-masalah perkembangan anak dengan screening (skrining/penapisan/penjaringan) dan surveillance ukuran standart atau non standart, yang juga digabungkan dengan informasi tentang perkembangan sosial, riwayat keluarga, riwayat medik dan hasil pemeriksaan mediknya.

Tolak ukur perkembangan meliputi motorik kasar, motorik halus, berbahasa, dan prilaku sosial. Dikatakan terdapat penyimpangan apabila kemampuan anak tidak sesuai dengan tolak ukur (milestone) anak normal. Dalam survei diperoleh informasi kepedulian orang tua terhadap perkembangan dan prilaku anaknya. Kategori kepedulian orang tua dalam deteksi penyimpangan perkembangan anak :

1. emosi dan perilaku

2. berbicara dan berbahasa

3. keterampilan sosial dan menolong diri sendiri

4. motorik kasar

5. motorik halus

6. membandingkan dengan lingkungan

7. masalah anak yang orang tuanya tidak mengeluh

masalah penyimpangan tumbuh kembang anak yang terjadi di masyarakat memang sangatlah bervariasi, sebagai ilustrasi dapat dikaji sepuluh macam kasus yang terbanyak pada penderita baru rawat jalan klinik tumbuh kembang RS dr.Soetomo tahun 2005 pada tabel 1.

TAHAP TAHAP PENILAIAN PERKEMBANGAN ANAK

1. Anamnesis

Tahap pertama adalah melakukan anamnesis yang lengkap, karena kelainan perkembangan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Dengan anamnesis yang teliti maka salah satu penyebabnya dapat diketahui.

2. Skrining gangguan perkembangan anak

Pada tahap ini dianjurkan digunakan instrumen-instrumen untuk skrining guna mengetahui kelainan perkembangan anak, misalnya dengan menggunakan DDST, tes IQ, atau tes psikologik lainnya.

3. Evaluasi perkembangan anak

Tumbuh kembang anak adalah hasil interaksi antara faktor genetik dengan lingkungan biofisikopsikososial. Oleh karena itu untuk deteksi dini, kita juga melakukan evaluasi lingkungan anak tersebut.

4. Evaluasi penglihatan dan pendengaran anak

Tes penglihatan misalnya untuk anak umur kurang dari 3 tahun dengan tes fiksasi, umur 2 ½ tahun – 3 tahun dengan kartu gambar dari allen dan diatas umur 3 tahun dengan huruf E. Juga diperiksa apakah ada tanda strabismus dan selanjutnya periksa kornea dan retinanya. Sedangkan skrining perkembangan anak, melalui anamnesis atau menggunakan audiometer kalau ada alatnya. Disamping itu dilakukan juga pemeriksaan bentuk telinga, hidung, mulut dan tenggorokan untuk mengetahui adanya kelainan bawaan.

5. Evaluasi bicara dan bahasa anak

Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui apakah kemampuan anak berbicara masih dalam batas batas normal atau tidak. Karena kemampuan berbicara menggambarkan kemampuan SSP, endokrin, ada atau tidaknya kelainan bawaan pada hidung, mulut dan pendengaran, stimulasi yang diberikan, emosi anak dan sebagainya.

6. Pemeriksaan fisik

Untuk melengkapi anamnesis diperlukan pemeriksaan fisik, untuk mengetahui apakah terdapat kelainan fisik yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak.misalnya berbagai sindrom, penyakit jantung bawaan, tanda tanda penyakit defisiensi dan lainnya.

7. Pemeriksaan neurologi

Dimulai dengan anamnesis masalah neurologi dan keadaan keadaan yang diduga dapat mengakibatkan kelainan neurologi, seperti trauma lahir, persalinan yang lama, asfiksia berat dan sebagainya. Kemudian dilakukan tes neurologi yang teliti, maka dapat membantu dalam diagnosis suatu kelainan, misalnya kalau ada lesi intrakranial, serebral palsi, neuropati perifer, dan penyakit degeneratif lainnya.

Untuk mengetahui secara dini adanya cerebral palsi, dianjurkan menggunakan pemeriksaan neurologi menurut milani comparetti, yang merupakan cara untuk evaluasi perkembangan motorik dari lahir sampai umur 2 tahun.

8. Evaluasi penyakit penyakit metabolik

Salah satu penyebab gangguan perkembangan pada anak adalah disebabkan oleh penyakit metabolik. Dari anamnesis dapat dicurigai adanya penyakit metabolik, apabila ada anggota keluarga lainnya yang terkena penyakit yang sama. Adanya tanda tanda klinis seperti rambut yang pirang dicurigai adanya PKU (phenylketouria), ataksia yang intermitten dicurigai adanya hiperamonemia dan sebagainya. Disamping itu diperlukan pemeriksaan penunjang lainnya sesuai dengan kecurigaan kita.

9. Integrasi dari hasil penemuan

Berdasarkan anamnesis dan semua pemeriksaan tersebut diatas, dibuat suatu kesimpulan diagnosis dari gangguan perkembangan tersebut. Kemudian ditetapkan penatalaksanaannya, konsultasi kemana dan prognosisnya.

SKRINING PERKEMBANGAN

Skrining perkembangan merupakan prosedur yang didesain untuk mengidentifikasi anak yang harus mendapatkan penilaian yang lebih intensif. Skrining digunakan untuk mendeteksi deviasi yang tak terduga dari perkembangan normal yang tidak seharusnya ada. Tujuan utama dari skrining adalah untuk mengidentifikasikan secepatnya disabilitas perkembangan pada anak yang beresiko tinggi sehingga penanganan dapat dilakukan pada usia dini dimana penanganan paling efektif. Skrining bukan merupakan tes yang hanya dilakukan pada satu waktu, tetapi lebih merupakan proses dan prosedur yang digunakan pada periode waktu tertentu.

Tes skrining yang ideal harus mempunyai sensitivitas (mendeteksi hampir semua masalah pada anak) dan spesifitas (dapat mendeteksi anak dengan keterlambatan) yang tinggi. Tes tersebut juga harus dapat mengukur apa yang seharusnya terukur (validitas), memberikan hasil yang sama pada penggunaan berulang oleh pemeriksa yang berbeda, murah dan cepat digunakan. Skrining perkembangan yang ideal tidak sepenuhnya ada. Tabel 2 mencantumkan beberapa tes skrining perkembangan yang sering digunakan dan keterbatasannya.

Perlu dipisahkan antara skrining perkembangan, penilaian perkembangan maupun survailans perkembangan. Penilaian perkembangan ditujukan kepada pemeriksaan yang lebih detail dari perkembangan yang tertunda. Di satu sisi, survailans perkembangan merupakan tes yang berkelanjutan, fleksibel, dan proses yang komprehensif dimana termasuk aktifitas yang berhubungan pada deteksi dari masalah perkembangan dan promosi perkembangan selama kunjungan primer kesehatan anak. Survailans perkembangan termasuk identifikasi dari keadaan keluarga, observasi anak, skrining, dan imunisasi.

Terdapat tiga pendekatan pada proses skrining, yaitu skrining perkembangan informal, skrining perkembangan rutin dan skrining perkembangan terfokus. Skrining perkembangan informal berdasarkan observasi pada saat pemeriksaan rutin anak dan menanyakan orang tua mengenai perhatian mereka terhadap perkembangan anaknya. Ahli anak, bagaimanapun juga perlu membiasakan diri dengan berbagai variasi milestone perkembangan anak pada berbagai tingkat usia. Hal ini bukanlah tugas mudah untuk para klinisi umum. Nilai batas atas normal telah dipergunakan sebagai panduan untuk mengidentifikasikan keterlambatan. Sebagai tambahan, beberapa penelitian juga melaporkan bahwa ahli anak seringkali tidak akurat dalam memprediksikan status perkembangan anak. Hampir setengah dari keterlambatan perkembangan tidak teridentifikasi oleh ahli anak. Terlebih lagi, pengetahuan orang tua mengenai perkembangan anak sangat mempengaruhi, dikarenakan orang tua tidak mengindahkan pentingnya keterlambatan perkembangan. Daya ingat orang tua dari milestone perkembangan seringkali tidak akurat dan telah dilaporkan bahwa orang tua terlihat terlalu berlebihan dalam menilai perkembangan bahasa dari anak dan tidak mengindahkan kemampuan motorik halus dari anak. Didalam permasalahan ini seorang ahli penyakit anak tidak mungkin mampu mengidentifikasi secara benar anak yang mempunyai keterlambatan perkembangan pada mayoritas anak dengan keterlambatan perkembangan melalui metode skrining informal.

Skrining perkembangan formal dilakukan secara sistematis dengan menggunakan insrumen skrining yang telah terstandarisasi. Bagaimanapun juga pendekatan ini membutuhkan waktu yang banyak dan orang yang terlatih. Dan tidak dapat pula menjamin untuk dapat menurunkan insiden dari masalah perkembangan pada populasi anak dengan resiko rendah.

Meskipun di negara berkembang, kegunaan dari skrining perkembangan rutin masih tetap dipertanyakan. Di Swedia, dimana telah mempunyai sistem skrining yang sangat terorganisasi pada pusat pusat kesehatan anak, penelitian telah membuktikan bahwa pemeriksaan rutin pada pusat kesehatan hanya membuat perbedaan kecil dalam deteksi dini cerebral palsi.

Skrining perkembangan yang terfokus melibatkan dua kelompok anak, yaitu (a) anak dengan orang tua yang memberi perhatian yang lebih pada perkembangan anak dan guru atau dokter yang mencurigai adanya masalah, (b) neonatus dengan kondisi resiko tinggi untuk terjadinya keterlambatan perkembangan, contohnya:

· BBLR (<1500 g)

· Kondisi neurologis

· Perdarahan intraventrikular Gr. III or IV

· Periventricular leukomalacia

· Hipoksia iskemik ensefalopati

· Apgar skor 0-3 pada menit 10, 15 and 20

· Meningitis

· Kejang persistent

· Apnea

· Hyperbilirubinemia

· Kejang dengan hipoglikemi

· Septikemia

MEMILIH INSTRUMEN TES PERKEMBANGAN

Meskipun semua instrument tes perkembangan didesain untuk mengidentifikasi anak yang potensial untuk keterlambatan perkembangan, masing masing instrumen mempunyai pendekatan yang berbeda beda dalam mengidentifikasi.

Tidak ada instrument yang secara universal dapat diterima untuk semua populasi dan usia. Tes skrining yang ada bervariasi dari yang menilai perkembangan secara umum sampai yang terfokus pada area yang spesifik, seperti kemampuan motorik dan komunikasi. Tes skrining secara luas harus menilai berbagai aspek perkembangan, termasuk motorik kasar, motorik halus, bahasa, komunikasi, tingkah laku dan kemampuan personal sosial. Terdapat berbagai macam tes skrining, dan pilihan untuk memakai instrument yang mana bergantung pada populasi yang akan di skrining, tipe masalah yang di skrining pada populasi tersebut, waktu penilaian dan biaya dari instrument.

Tes skrining juga harus valid dan dapat diandalkan, dengan sensitifitas dan spesifitas yang baik. Realibilitas merupakan kemampuan dari suatu pengukuran untuk dapat menghasilkan hasil yang konsisten, validitas dari tes skrining perkembangan berhubungan dengan kemampuan untuk memisahkan antara anak yang normal atau anak dengan keterlambatan perkembangan, sensitifitas merupakan keakuratan dari tes tersebut untuk dapat mengidentifikasi anak dengan perkembangan yang terlambat, spesifitas merupakan keakuratan dari tes skrining untuk mengidentifikasi anak tanpa keterlambatan perkembangan. Jika tes skrining salah mengindentifikasikan anak yang normal sebagai anak yang terlambat dalam perkembangan maka akan menghasilkan yang disebut overreferrals, dan jika suatu tes salah mengidentifikasikan anak yang terlambat sebagai anak yang normal maka itu akan menghasilkan yang disebut sebagai underreferrals.

Untuk tes skrining perkembangan, system penilaian harus dibuat untuk meminimalkan underreferrals dan overreferrals. Terdapat pertukaran nilai antara sensitifitas dan spesifitas ketika memperbaiki sistem penilaian tersebut, sensitifitas dan spesifitas pada level 70% sampai 80% telah dapat diterima untuk tes skrining perkembangan.

INSTRUMEN TES PERKEMBANGAN

Ahli penyakit anak sekarang mempunyai banyak instrumen perkembangan yang dapat dipilih. Instrumen yang paling baik adalah yang mempunyai data psikometrik yang baik, termasuk sensitifitas, spesifitas, validitas, dan realibilitas yang baik, dan telah distandarisasi pada populasi luas. Instrumen yang dipakai oleh orang tua anak, seperti Parents’ Evaluation of Developmental Status,

Ages and Stages Questionnaires, dan Child Development Inventories Mempunyai data psikometrik ysng baik dan mempunyai keunggulan dimana untuk melakukannya membutuhkan waktu yang singkat bila dibandingkan dengan instrument yang membutuhkan pemeriksaan langsung oleh ahli penyakit anak. Instrument seperti Denver-II screening test, Bayley Infant Neurodevelopmental

Screener, Battelle Developmental Inventory, Early Language Milestone Scale, danBrigance Screens melibatkan pemeriksaan langsung terhadap kemampuan anak. The CAT-CLAMS merupakan tes yang didesain khusus untuk dapat digunakan oleh ahli penyakit anak untuk menilai kemampuan kognitif dan bahasa dari anak.

Setiap tes skrining mempunyai kekuatan dan kelemahannya masing masing. Contohnya the Denver-II screening test yang telah digunakan secara luas, namun mempunyai sensitifitas dan spesifitas yang rendah tergantung dari interpretasi hasilnya. Setiap tes juga harus dilakukan sesuai instruksi yang ada, jika tidak maka hasilnya akan tidak valid.

Skrining untuk psikososial dan tingkah laku pada anak terdapat beberapa tantangan, anak dengan perkembangan yang terhambat mempunyai resiko yang tinggi untuk memiliki masalah tingkah laku. Kebanyakan instrument skrining perkembangan tidak dapat menilai pada area ini secara adekuat. Instrument tes seperti the Temperament and Atypical Behavior Scale, Child Behavioral Checklist, The Carey Temperament Scales, Eyberg Child Behavior Inventory, Pediatric Symptom Checklist, and Family Psychosocial Screening, dapat membantu dalam mendeteksi masalah tingkah laku. Akhir akhir ini terdapat peningkatan ketertarikan dalam skrining anak untuk autistic spectrum disorders karena terdapatnya peningkatan pada prevalensi dan kemampuan untuk diagnosis dan intervensi dini. Instrument skrining spesifik seperti the Checklist for Autis in Toddlers (CHAT), dapat membantu ahli penyakit anak untuk diagnostik, tetapi dapat terjadi kesalahan karena mempunyai sensitifitas yang rendah dan spesifitas yang tinggi.

Tes yang paling sering digunakan adalah Denver Developmental Screening Test-II (Denver II). Bagaimanapun juga, dibalik kepopularannya, DDST II tidak berfungsi baik sebagai tes skrining, karena mempunyai sensitifitas yang terbatas dan validitas yang rendah. Tetapi tes ini tetap bernilai karena kemudahannya untuk digunakan. Skrining yang mempunyai sensitifitas dan spesifitas yang baik dengan menggunakan 10 set dari pertanyaan yang terstruktur yang dapat diperhatikan oleh orang tua di berbagai area perkembangan, pendekatan ini telah diformalkan sebagai Parents’ Evaluation of Developmental Status (PEDS) questionnaire. Cara ini merupakan cara yang akurat karena secara umum orang tua merupakan pengamat yang akurat dari tingkah laku dan perkembangan anak.

Lebih jauh lagi efisiensi dari skrining dapat ditingkatkan dengan menggunakan skrining level kedua untuk anak yang dicurigai bermasalah dengan menggunakan The Ages and Stages Questionnaires (ASQ). Tes ini terdiri dari seri 11 pertanyaan yang didesain untuk dapat dilakukan dirumah dari usia 4 sampai 48 bulan, dan mempunyai validitas dan realibilitas yang baik sebesar 76-91%, meskipun ASQ mungkin gagal untuk mengidentifikasikan hampir 13% anak dengan keterlambatan perkembangan. Penilaian dan interpretasi dapat dilakukan dengan cepat, dimana sangat cocok untuk seseorang yang sibuk.

Skrining untuk keterlambatan bahasa sangat penting, dikarenakan terdapat hubungan yang kuat antara bahasa dan perkembangan kognitif dan kemampuan pendidikan. Early Language Milestone (ELM) membutuhkan waktu pengerjaan 2-3 menit, sensitifitas untuk bahasa dan kognitif sangat tinggi bila dibandingkan dengan tes diagnostik standar baku. Masalah psikiatri dan tingkah laku sangat sering terjadi dan sering bersamaan dengan keterlambatan perkembangan. Skrining untuk masalah tingkah laku dapat dengan menggunakan Pediatric Symptom Checklist, yang sederhana dan validitas yang baik.

PERANGKAP DALAM INTERPRETASI PERKEMBANGAN ANAK

Kesalahan kesalahan yang sering dibuat dalam menginterpretasikan perkembangan anak adalah sebagai berikut:

1. Perkembangan motorik

Pada tahun pertama seringkali tenaga kesehatan/orangtua lebih menfokuskan pada perkembangan motorik kasar saja. Sehingga sering terkecoh pada perkembangan motorik yang dianggap normal tersebut dengan suatu harapan yang semu terhadap kemampuan intelektual anak. bebrapa penelitian menemukan bahwa kemampuan motorik bukanlah prediksi dari intelektualitas, dan didapatkan juga bahwa anak dengan retardasi mental yang sedang sampai berat tidak memperlihatkan keterlambatan dalam kemampuan motorik. Kemampuan intelektual anak dapat dilihat pada perkembangan bahasa dan pemecahan masalah. Selain itu perhatian juga kurang diberikan pada perkembangan motorik halus. Padahal perkembangan motorik halus merupakan indikator yang lebih baik daripada motorik kasar, dalam diagnosis gangguan motorik pada anak. Perkembangan motorik halus yang paling awal adalah jari jari tangan yang tidak menggenggam lagi pada bayi umur 3 bulan. Bila masih menggenggam setelah umur 3 bulan dicurigai adanya cerebral palsi

2. Intelegensi: penampilan superfisial

Suatu konsep bahwa anak yang retardasi mental ditandai dengan muka yang khas. Pendapat ini tidak selamanya benar, karena itu kita seringkali terlambat membuat diagnosis pada anak yang retardasi mental dengan penampilan fisik seperti anak normal atau dengan kemampuan motorik kasar yang baik. Begitu pula sebaliknya, anak dengan raut wajah yang dysmorphic mungkin tidak memiliki defisiensi intelektualitas. Anak yang autistik sering dikatakan sebagai anak yang manis dan lain sebagainya.

3. Perkembangan bahasa

Kesalahan yang sering dibuat adalah pandangan yang mengatakan bahwa perkembangan bahasa belum dimulai sampai anak umur satu tahun dan tidak perlu kuatir akan adanya kelainan bahasa sampai anak umur 2 tahun. Hal penting untuk diingat ialah kemampuan bahasa, yang diukur dari ekspresif dan reseptif, merupakan salah satu prediktor yang baik terhadap intelegensia anak. Untuk mencegah kesalahan tersebut, diperlukan kemampuan dalam mendapatkan anamnesis yang akurat dan pengetahuan tentang milestone perkembangan bahasa.

4. Pendengaran

Kesalahan yang sering dibuat adalah pandangan bahwa ketulian sangat jarang pada anak. Sehingga sering tidak terdiagnosis sampai anak berumur lebih dari satu tahun.Ternyata 1 dari 1000 kelahiran adalah anak dengan ketulian berat. Rata rata diagnosis tuli kongenital baru dibuat pada saat anak berumur 2-2,5 tahun. Oleh karena itu anamnesis yang baik pada orang tuanya sangat penting, apakah anak ada respons terhadap bunyi bunyian, kapan anak mulai bisa mengoceh dan sebagainya.

Oleh karena itu skrining perkembangan anak dengan menggunakan instrumen yang sudah baku, merupakan prosedur yang rutin yang harus dilaksanakan dalam melakukan pemeriksaan anak sehari hari.

PERKEMBANGAN BICARA BAYI DAN ANAK


Sekedar untuk pegangan kecil Anda, berikut adalah tahap perkembangan bicara pada anak:

· 7-8 bln: berkata satu suku kata, misalnya:ma atau pa.

· 8 - 10 bulan: bisa mengeluarkan suara bersambung, misalnya : mamamama, babababa.

· 11 - 13 bulan: mulai bisa memanggil dengan kata bermakna, misalnya mama.

· 13 - 15 bulan: mulai bisa mengucapkan 1 kata, misalnya pipis, bobo.

· 15 - 17 bulan: mulai bisa mengucapkan 2 kata

· 16 - 18 bulan: mulai bisa mengucapkan 3 kata

· 19 - 22 bulan: mulai bisa mengucapkan 6 kata

· 23 - 26 bulan: mulai bisa menggabungkan beberapa kata , misalnya ‘mama mana.

· 24 - 28 bulan: bisa menyebutkan nama suatu obyek.

· 26 - 35 bulan: bicaranya sudah mudah dimengerti (50%).

Mengenal & Mengukur Kecerdasan Balita


dr. Dwi Putro Widodo, Sp.A(K), Mmed.Paed


Banyak orang tua berharap bisa mengetahui sejak dini, apakah bayinya cerdas atau tidak.Tapi alat yang tersedia untuk mengukur kecerdasan bayi masih sedikit dan problematik.Ukuran yang adapun hanya dapat digunakan oleh orang tertentu dan terlatih, seperti dokter atau psikolog, dan lain-lain.

Selain alat ukur yang sulit dan membutuhkan latihan dan waktu untuk menginterpretasi, tonggak perkembangan (milestone) kecerdasan pada bayi dan anak jarang disinggung
atau dibahas atau dikenal baik oleh kalangan medis atau paramedis, apalagi nonmedis.
Tidak seperti perkembangan motorik atau bicara yang telah dikenal kalangan nonmedis, baik diketahui dari majalah populer atau dari kunjungan ke dokter. Paling tidak, ada 2 alasan mengapa tonggak kecerdasan sulit dimengerti. Pertama, karena kemampuan kecerdasan pada anak besar dan orang dewasa tidak terdapat pada bayi dan anak kecil, seperti memecahkan masalah abstrak. Selain itu, mengukur kemampuan kecerdasan bayi dan anak, hanya dapat diketahui dengan melakukan observasi dari apa yang dilakukannya.

Perkembangan kecerdasan sangat dipengaruhi oleh kematangan fisiologis. Seorang anak dapat melakukan koordinasi gerakan tangan, kaki maupun kepala secara sadar, setelah sel-sel saraf otaknya maupun organ-organ lainnya berkembang secara memadai. Artinya, kemampuan kecerdasan harus diiringi dengan maturasi susunan sarafnya.

Dengan bertambahnya usia dan pengalaman yang didapat melalui interaksi dengan lingkungannya, jaringan saraf tersebut akan berkembang semakin kompleks dan padat.
Kompleksitas sistem saraf otak ini dapat menunjukkan perkembangan kemampuan intelektual seseorang individu semakin baik. Prinsip Dasar Perkembangan Kecerdasan
Terdapat prinsip dasar perkembangan kecerdasan yang dialami oleh manusia yaitu (1) setiap tahap perkembangan kecerdasan dipengaruhi oleh tahap kecerdasan sebelumnya dan mempengaruhi tahap berikutnya, (2) tahap-tahap kecerdasan manusia bersifat universal, dan (3) setiap tahap perkembangan sebagai proses yang integratif.



Fungsi Kecerdasan

Kecerdasan seorang anak ditentukan oleh banyak faktor. Unsur keturunan atau genetik memang dapat membuat anak-anak menjadi cerdas atau kurang cerdas. Namun, ternyata hal ini tidak mutlak. Sebab, faktor lingkungan justru lebih banyak berpengaruh terhadap perkembangan otak mereka.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan, bahwa kita dapat membuat anak kita lebih cerdas dalam lingkungan rumah yang hangat dan merangsang. Bila anak kebetulan mewarisi
kemampuan rata-rata atau di atas rata-rata, suatu lingkungan yang penuh kasih dan cukup rangsangan, kemungkinan besar akan meningkatkan taraf kecerdasannya menjadi anak yang sangat cerdas atau superior. Sebaliknya, anak yang lahir dengan kemampuan superior tetapi tidak menerima rangsangan-rangsangan semasa kecilnya, tidak akan berkembang menjadi anak cerdas.

Telah diketahui bahwa stimulasi lingkungan yang baik akan menyebabkan penambahan ketebalan korteks (lapisan) otak, penambahan jumlah sinaps (penghubung) per neuron (sel saraf), dan penambahan pembuluh kapiler. Secara klinis, telah dibuktikan pula bahwa stimulasi lingkungan sejak masa prasekolah menyebabkan bertambah baiknya proses belajar, dan efek ini terbawa terus sampai masa anak usia sekolah. Selain pada anak normal, stimulasi serupa juga menunjukkan hasil pada anak dengan gangguan perkembangan yang menunjukkan kemajuan.

Perkembangan Kecerdasan

Kecerdasan intelektual (IQ) dalam populasi umum dikategorikan atas: genius (>140), sangat cerdas (130-139), cerdas (120-129), diatas normal (110-119), normal (90-109), dibawah normal (80-89), bodoh (70-79), debil (50-59), embecil (25-49), dan idiot (<24).

Konsep dasar kecerdasan (teori Piaget) mengemukakan bahwa ketika seorang anak berinteraksi dengan lingkungannya, ada sistem yang mengatur dari dalam diri anak tersebut yang cenderung menetap, yaitu skema kognitif dan adaptasi (asimilasi dan akomodasi), kemudian dipengaruhi faktor lingkungan. Proses asimilasi dan akomodasi terjadi bersamaan dan saling me!engkapi dalam pembentukan kognitif seseorang. Selain itu, ada urutan yang sama dalam perkembangan kecerdasan anak, tetapi ada perbedaan dalam waktu dalam mencapai tahap perkembangan kognitif tertentu.

Masing masing tahap ini dicirikan oleh struktur kognitif umum yang mempengaruhi semua pemikiran si anak. Masing masing tahap mewakili pemahaman sang anak tentang realitas
pada masa itu. Jadi, pekembangan dari satu tahap ke tahap yang lainnya disebabkan oleh akumulasi didalam pemahaman sang anak tentang lingkungannya.

Berdasarkan konsep dasar ini, tahap perkembangan kecerdasan dibagi menjadi tahap sensorimotor (0-2 tahun), pra-operasional (2-7 tahun), konkret operasional (7-11 tahun), dan formal operasional (>11 tahun). Dengan mengetahui tahap perkembangan kecerdasan ini, diharapkan orang tua dapat mengembangkan kemampuan kecerdasan anaknya dengan tepat, sesuai usia perkembangan kognitifnya.

Setiap anak selalu ada dalam salah satu stadium perkembangan. Stadium-stadium ini menentukan bagaimana cara anak menginterpretasi suatu tugas. Artinya, fungsi kognitif
pada umur yang berlainan, dapat dibedakan satu sama lain. Jadi, stadium yang berurutan tadi menunjukkan kemungkinan kognitif baru yang sebelumnya belum ada. Tahap kecerdasan sensorimotor (0-2 tahun)

Pada periode ini kecerdasan anak diperlihatkan melalui aktivitas motoriknya untuk menemukan hubungan antara tubuhnya dan lingkungannya. Mengingat kemampuan sensoriknya telah berkembang, maka bayi belajar mengenal Iingkungannya melalui melihat, menyentuh, mendengar, dan mengisap. Jadi, manifestasi kecerdasan awal ini diketahui dari persepsi sensorik dan aktivitas motoriknya.


Beberapa subtahap dalam tahapan kecerdasan sensorimotor yaitu:


1. Aktivitas refleks (0-1 bulan)

Inilah kecerdasan' promitif, dimana bayi belajar melalui gerakan refleksnya (mengisap selimut, alat permainan seperti mengisap puting) dan menyesuaikan gerakannya dengan objek baru


2. Reaksi sirkuler pertama (1-4 bulan)

Pergerakan sistem sensori mulai diselaraskan dengan pandangan dan gerak tangan. Bayi akan mengulangi tingkah lakunya apabila yang dilakukannya menyenangkan.


3. Reaksi sirkuler kedua (4-8 bulan)

Bayi telah dapat melakukan tingkah laku baru, seperti mengambil barang lalu mengerakkannya. Dia juga bisa menanggapi benda di dalam tangannya. Contohnya, sengaja memasukkan barang mainan ke mulutnya dengan tujuan mengetahui atau mengenali barang tersebut.


4. Reaksi koordinasi (8-12 bulan)

Anak mulai menunjukkan tanda kecerdasannya. Mereka sudah mampu melakukan aksi untuk mencapai keinginannya. Contoh, bayi akan mengangkat bantal untuk mengambil mainannya yang disembunyikan. Bayi sudah mengetahui konsep sebab akibat. Misalnya,ketika menggoncangkan mainan akan berbunyi.


5. Reaksi sirkuler ketiga (12-18 bulan)

Di tahap ini, bayi memperlihatkan kemajuan yang pesat berhubungan dengan pemahaman konsep, dan telah mempunyai konsep yang kukuh tentang suatu benda. Bayi juga mampu
mengenal coba-salah tetapi dalam taraf yang mudah. Contohnya, anak akan mencoba pelbagai bunyi dan tingkah laku untuk mendapatkan perhatian.


6. Penggambaran pemikiran awal (18-2 tahun)

Anak mulai menggunakan simbol buat pertama kali. Dapat memahami aktivitas permainan dan fungsi simbol. Anak juga sudah mengetahui tentang perananya dan fungsi individu
dalam rurnah tangga.


Tahap Kecerdasan Pra-operasional (2-7 tahun)

Operasional artinya mempunyai kemampuan berpikir secara logika. Terdapat beberapa tanda perkembangan kecerdasan pada periode ini, yaitu:


1. Pada usia ini anak menjadi egosentris, sehingga berkesan pelit, karena ia tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain. Sebagai contoh, bila ada 3 mobil, merah, putih dan biru berjajar, kemudian anak diminta menyebutkan urutan mobil tadi dari sudut pandang orang lain yang berdiri di seberang sebaliknya, maka anak akan menjawab dari sudut pandangnya sendiri.


2. Imitasi tertunda (meniru), yaitu kemampuan untuk meniru dari apa yang diketahui atau dilihat sehari sebelumnya. Ini merupakan petunjuk bahwa daya ingat (memori) anak berkembang baik. Sebagian besar anak mulai mempraktikkan ini pada usia sekitar 2 tahun. Jika di usia 3-4 tahun belum dapat melakukan proses meniru tertunda ini, bisa jadi dia mempunyai gangguan dalam perkembangan kecerdasannya.


3. Permainan simbolik, yaitu mampu berbuat pura-pura. Artinya, anak dapat menimbulkan situasi-situasi yang tidak langsung ada. Misalnya, kotak korek api disimbolkan , sebagai pesawat atau mobil. Berpikir simbolik diperlukan untuk perkembangan normal bicara, karena bicara merupakan petunjuk simbolik yang tinggi.

Permainan simbolik, penting dalam perkembangan kecerdasan anak, karena permainan ini merupakan cara mengekspresikan dirinya, pikirannya, ide, kecemasannya, dan lain lain,
sebelum dia mampu mengekspresikannya dengan kata-kata.


4. Mengambar, yaitu kemampuan mempresentasikan sesuatu melalui gambar yang juga merupakan petunjuk bahwa anak belajar berkomunikasi dengan simbol. Semakin anak besar, semakin baik gambaran yang di ungkapkannya.


5. Berpikir sentralis, yaitu bila anak dihadapkan dengan situasi yang banyak pilihan, maka dia akan memusatkan perhatiannya hanya pada satu pilihan saja dan mengabaikan
pilihan lainnya. Misalnya, anak akan memilih gelas tinggi ramping daripada gelas pendek lebar, meskipun isinya sama.


6. Perkembangan bicara. Bicara merupakan petunjuk perkembangan kecerdasan yang baik. Pada usia 2 tahun, anak sudah menggunakan satu kata simbolik untuk mengambarkan sebuah benda. Kemampuan bicara pada periode ini sangat penting untuk mengekspresikan pola pemikirannya yang makin kompieks, selain juga penting untuk berkomunikasi dengan lingkungannya.


7. Berpikir tidak dapat dibalik (ireversibel). Anak belum mampu meniadakan suatu tindakan dengan memikirkan tindakan tersebut dari arah yang sebaliknya. Misalnya, Agus punya saudara Ani, dan Agus tidak mengerti bahwa Ani juga mempunyai saudara Agus bila ditanya apakah Ani punya saudara.







Tahapan Perkembangan Kemampuan Bicara dan Berbahasa

Berikut ini akan disajikan informasi seputar tahapan perkembangan bahasa dan bicara seorang anak. Namun perlu diperhatikan, bahwa batasan-batasan yang tertera juga bukan merupakan batasan yang kaku mengingat keunikan setiap anak berbeda satu dengan yang lain. Menurut Dr. Miriam Stoppard (1995) tahapan perkembangan kemampuan bicara dan berbahasa dapat dibagi sebagai berikut:

0-8 Minggu

Pada masa awal, seorang bayi akan mendengarkan dan mencoba mengikuti suara yang didengarnya. Sebenarnya tidak hanya itu, sejak lahir ia sudah belajar mengamati dan mengikuti gerak tubuh serta ekspresi wajah orang yang dilihatnya dari jarak tertentu. Meskipun masih bayi, seorang anak akan mampu memahami dan merasakan adanya komunikasi dua arah dengan memberikan respon lewat gerak tubuh dan suara. Sejak dua minggu pertama, ia sudah mulai terlibat dengan percakapan, dan pada minggu ke-6 ia akan mengenali suara sang ibu, dan pada usia 8 minggu, ia mulai mampu memberikan respon terhadap suara yang dikenalinya.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

· Semakin dini orang tua menstimulasi anaknya dengan cara mengajaknya bercakap-cakap dan menunjukkan sikap yang mendorong munculnya respon dari si anak, maka sang anak akan semakin dini pula tertarik untuk belajar bicara. Tidak hanya itu, kualitas percakapan dan bicaranya juga akan lebih baik. Jadi, teruslah mengajak anak Anda bercakap-cakap sejak hari pertama kelahirannya.

· Jalinlah komunikasi dengan dihiasi oleh senyum Anda, pelukan, dan perhatian. Dengan demikian anak Anda akan termotivasi untuk berusaha memberikan responnya.

· Tunjukkanlah selalu kasih sayang melalui peluk-cium, dan kehangatan yang bisa dirasakan melalui intonasi suara Anda. Dengan demikian, Anda menstimulasi terjalinnya ikatan emosional yang erat antara Anda dengan anak Anda sekaligus membesarkan hatinya.

· Selama menjalin komunikasi dengan anak Anda, jangan lupa untuk melakukan kontak mata secara intensif karena dari pandangan mata tersebutlah anak bisa merasakan perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengertian. Jika sedang bicara, tataplah matanya dan jangan malah membelakangi dia.

· Jika anak Anda menangis, jangan didiamkan saja. Selama ini banyak beredar pandangan keliru, bahwa jika bayi menangis sebaiknya didiamkan saja supaya nantinya tidak manja dan bau tangan. Padahal, satu-satunya cara seorang bayi baru lahir untuk mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhannya (haus, lapar, kedinginan, kepanasan, kebutuhan emosional, kelelahan, kebosanan) dia adalah melalui tangisan. Jadi, jika tangisannya tidak Anda pedulikan, lama-lama dia akan frustasi karena kebutuhannya terabaikan. Yang harusnya Anda lakukan adalah memberinya perlakuan seperti yang dibutuhkannya saat ia menangis. Untuk itu, kita sebagai orang tua haruslah belajar memahami dan mengerti bahasa isyaratnya. Tidak ada salahnya, jika Anda seakan-akan bertanya padanya, seperti :”rupanya ada sesuatu yang kamu inginkan,….coba biar Ibu lihat…”

8-24 Minggu

Tidak lama setelah seorang bayi tersenyum, ia mulai belajar mengekspresikan dirinya melalui suara-suara yang sangat lucu dan sederhana, seperti “eh”, “ah”, “uh”, “oh” dan tidak lama kemudian ia akan mulai mengucapkan konsonan seperti “m”, “p”, “b”, “j” dan “k”. Pada usia 12 minggu, seorang bayi sudah mulai terlibat pada percakapan “tunggal” dengan menyuarakan “gaga”, “ah goo”, dan pada usia 16 minggu, ia makin mampu mengeluarkan suara seperti tertawa atau teriakan riang, dan bublling. Pada usia 24 minggu, seorang bayi akan mulai bisa menyuarakan “ma”, “ka”, “da” dan sejenisnya. Sebenarnya banyak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seorang anak sudah mulai memahami apa yang orang tuanya atau orang lain katakan. Lucunya, anak-anak itu akan bermain dengan suaranya sendiri dan terus mengulang apa yang didengar dari suaranya sendiri.


Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

· Untuk bisa berbicara, seorang anak perlu latihan mekanisme berbicara melalui latihan gerakan mulut, lidah, bibir. Sebenarnya, aktivitas menghisap, menjilat, menyemburkan gelembung dan mengunyah merupakan kemampuan yang diperlukan. Oleh sebab itu, latihlah anak Anda baik dengan permainan maupun dengan makanan.

· Sering-seringlah menyanyikan lagu untuk anak Anda dengan lagu-lagu anak-anak yang sederhana dan lucu, secara berulang dengan penekanan pada ritme dan pengucapannya. Bernyanyilah dengan diselingi permainan-permainan yang bernada serta menarik. Jadi, luangkan lah waktu Anda untuk terlibat dalam kegiatan menarik seperti itu agar kemampuan bicara dan berbahasa anak Anda lebih berkembang.

· Salah satu cara seorang anak berkomunikasi di usia ini adalah melalui tertawa. Oleh sebab itu, sering-seringlah bercanda dengannya, tertawa, membuat suara-suara dan ekspresi lucu agar kemampuan komunikasi dan interaksinya meningkat dan mendorong tumbuhnya kemampuan bahasa dan bicara.

· Setiap bayi yang baru lahir, mereka akan belajar melalui pembiasaan atau pun pengulangan suatu pola, kegiatan, nama atau peristiwa. Melalui mekanisme ini Anda mulai bisa mengenalkan kata-kata yang bermakna pada anak pada saat melakukan aktivitas rutin, seperti : pada waktu mau makan, Anda bisa katakan “nyam-nyam”

·

28 Minggu - 1 Tahun

Usia 28 minggu seorang anak mulai bisa mengucapkan “ba”, “da”, “ka” secara jelas sekali. Bahkan waktu menangis pun vokal suaranya sangat lantang dan dengan penuh intonasi. Pada usia 32 minggu, ia akan mampu mengulang beberapa suku kata yang sebelumnya sudah mampu diucapkannya. Pada usia 48 minggu, seorang anak mulai mampu sedikit demi sedikit mengucapkan sepatah kata yang sarat dengan arti. Selain itu, ia mulai mengerti kata “tidak” dan mengikuti instruksi sederhana seperti “bye-bye” atau main “ciluk-baa”. Ia juga mulai bisa meniru bunyi binatang seperti “guk”, “kuk”, “ck”



Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

· Jadilah model yang baik untuk anak Anda terutama pada masa ini lah mereka mulai belajar meniru kata-kata yang didengarnya dan mengucapkannya kembali. Ucapkan kata-kata dan kalimat Anda secara perlahan, jelas dengan disertai tindakan (agar anak tahu artinya atau korelasinya antara kata yang Anda ucapkan dengan tindakan kongkritnya), dan jangan lupa, bahasa tubuh dan ekspresi wajah Anda juga harus pas.

· Anak Anda akan belajar bicara dengan bahasa yang tidak jelas bagi Anda. Jadi, ini lah waktunya untuk Anda berdua (Anda dengan anak) saling belajar untuk bisa saling memahami keinginan dan maksud berdua. Jadikanlah kegiatan ini sebagai salah satu bentuk permainan yang menyenangkan agar anak Anda tidak patah semangat untuk terus mencoba mengucapkan secara pas dan jelas. Namun, jika Anda malas memperhatikan “suaranya”, apa yang dimaksudnya, dan tidak mengulangi suaranya, atau bahkan ekspresi wajah Anda membuat dirinya jadi enggan mencoba, maka anak Anda akan merasa bahwa “tidak memungkinkan baginya untuk mencoba mengekspresikan keinginan karena orang dewasa tidak akan ada yang mengerti dan mau mendengarkan”.

· Kadang-kadang, ikutilah gumamannya, namun, Anda juga perlu mengucapkan kata secara benar. Jika suatu saat ia berhasil mengucapkan suatu suku kata atau kata dengan benar, berilah pujian yang disertai dengan pelukan, ciuman, tepuk tangan..dan sampaikan padanya, “betapa pandainya dia”.

· Jika mengucapkan sebuah kata, sertailah dengan penjelasan artinya. Lakukan hal ini terus menerus meski tidak semua dimengertinya. Penjelasan bisa dilakukan misal dengan menunjukkan gambar, gerakan, sikap tubuh, atau pun ekspresi.

1 Tahun - 18 Bulan

Pada usia setahun, seorang anak akan mampu mengucapkan dua atau tiga patah kata yang punya makna. Sebenarnya, ia juga sudah mampu memahami sebuah obyek sederhana yang diperlihatkan padanya. Pada usia 15 bulan, anak mulai bisa mengucapkan dan meniru kata yang sederhana dan sering didengarnya untuk kemudian mengekspresikannya pada porsi / situasi yang tepat. Usia 18 bulan, ia sudah mampu menunjuk obyek-obyek yang dilihatnya di buku dan dijumpainya setiap hari. Selain itu ia juga mampu menghasilkan kurang lebih 10 kata yang bermakna.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

· Semakin mengenalkan anak Anda dengan berbagai macam suara, bunyi, seperti misalnya suara mobil, motor, kucing, anjing, dsb. Kenalkan pula pada suara-suara yang sering didengarnya sehari-hari, seperti pintu terbuka-tertutup, suara air, suara angin berdesir di pepohonan, kertas dirobek, benda jatuh, dsb.

· Sering-seringlah membacakan buku-buku yang sangat sederhana namun sarat dengan cerita yang menarik untuk anak dan gambar serta warna yang “eye catching”. Tunjukkan obyek-obyek yang terlihat di buku, sebutkan namanya, jelaskan apa yang sedang dilakukannya, bagaimana jalan ceritanya. Minta lah padanya untuk mengulang nama yang Anda sebutkan, dan jangan lupa, berilah pujian jika ia berhasil mengingat dan mengulang nama yang Anda sebutkan.

· Jika sedang bersamanya, sebutkan nama-nama benda, warna dan bentuk pada setiap obyek yang dilihatnya.

· Anda mulai bisa mengenalkan dengan angka dengan kegiatan seperti menghitung benda-benda sederhana yang sedang dibuat permainan. Lakukan itu dalam suasana yang santai dan nyaman agar anak tidak merasa ada tekanan keharusan untuk menguasai kemampuan itu

18 Bulan – 2 Tahun


Pada rentang usia ini, kemampuan bicara anak semakin tinggi dan kompleks. Perbendaharaan katanya pun bisa mencapai 30 kata dan mulai sering mengutarakan pertanyaan sederhana, seperti “mana ?”, “dimana?” dan memberikan jawaban singkat, seperti “tidak”, “disana”, “disitu”, “mau”. Pada usia ini mereka juga mulai menggunakan kata-kata yang menunjukkan kepemilikan, seperti “punya ani”, “punyaku”. Bagaimana pun juga, sebuah percakapan melibatkan komunikasi dua belah pihak, sehingga anak juga akan belajar merespon setelah mendapatkan stimulus. Semakin hari ia semakin luwes dalam menggunakan kata-kata dan bahasa sesuai dengan situasi yang sedang dihadapinya dan mengutarakan kebutuhannya. Namun perlu diingat, oleh karena perkembangan koordinasi motoriknya juga belum terlalu sempurna, maka kata-kata yang diucapkannya masih sering kabur, misalnya “balon” jadi “aon”, “roti” jadi “oti”.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

· Mulailah mengenalkan anak Anda pada perbendaharaan kata yang menerangkan sifat atau kualitas. Seperti “baik, indah, cantik, dingin, banyak, sedikit, asin, manis, nakal, jelek, dsb. Caranya, pada saat Anda mengucapkan suatu kata tertentu, sertailah dengan kualitas tersebut, misalnya “anak baik, anak manis, anak pintar, baju bagus, boneka cantik, anak nakal, roti manis”, dsb.

· Mulailah mengenalkan padanya kata-kata yang menerangkan keadaan atau peristiwa yang terjadi : sekarang, besok, di sini, di sana, kemarin, nanti, segera, dsb.

· Anda juga bisa mengenalkannya kata-kata yang menunjukkan tempat : di atas, di bawah, di samping, di tengah, di kiri, di kanan, di belakang, di pinggir; Anda bisa melakukannya dengan menggunakan contoh gerakan. Banyak model permainan yang dapat Anda gunakan untuk menerangkan kata-kata tersebut, bahkan dengan permainan, akan jauh lebih menyenangkan baginya dna bagi Anda.

· Yang perlu Anda ingat, janganlah menyetarakan perkembangan anak Anda dengan anak-anak lainnya karena tiap anak mempunyai dan mengalami hambatan yang berbeda-beda. Jadi, jika anak Anda kurang lancar dan fasih berbicara, janganlah kemudian menekannya untuk lekas-lekas mengoptimalkan kemampuannya. Keadaan ini hanya akan membuatnya stress.

2 - 3 Tahun


Seorang anak mulai menguasai 200 – 300 kata dan senang bicara sendiri (monolog). Sekali waktu ia akan memperhatikan kata-kata yang baru didengarnya untuk dipelajari secara diam-diam. Mereka mulai mendengarkan pesan-pesan yang penuh makna, yang memerlukan perhatian dengan penuh minat dan perhatian. Perhatian mereka juga semakin luas dan semakin bervariasi. Mereka juga semakin lancar dalam bercakap-cakap, meski pengucapannya juga belum sempurna. Anak seusia ini juga semakin tertarik mendengarkan cerita yang lebih panjang dan kompleks. Jika diajak bercakap-cakap, mudah bagi mereka untuk loncat dari satu topik pembicaraan ke yang lainnya. Selain itu, mereka sudah mampu menggunakan kata sambung “sama”, misalnya “ani pergi ke pasar sama ibu”, untuk menggambarkan dan menyambung dua situasi yang berbeda. Pada usia ini mereka juga bisa menggunakan kata “aku”, “saya” “kamu” dengan baik dan benar.

Dengan banyaknya kata-kata yang mereka pahami, mereka semakin mengerti perbedaan antara yang terjadi di masa lalu, masa kini dan masa sekarang.


Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

· Pada usia ini, anak Anda akan lebih senang bercakap-cakap dengan anak-anak seusianya dari pada dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, akan baik jika ia banyak dikenalkan dengan anak-anak seusianya dan dilibatkan pada lingkungan sosial yang bisa memfasilitasi kemampuan sosial dan berkomunikasinya. Salah satu tujuan para orang tua memasukkan anaknya dalam nursery school adalah karena alasan tersebut, agar anaknya bisa mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus sosialisasi. Meskipun demikian, bahasa dan kata-kata yang diucapkan masih bersifat egosentris, namun lama kelamaan akan lebih bersifat sosial seiring dengan perkembangan usia dan keluasan jaringan sosialnya.

· Sering-seringlah menceritakan cerita menarik pada anak Anda, karena sebenarnya cerita juga merupakan media atau sarana untuk mengekspresikan emosi, menamakan emosi yang disimpannya dalam hati, dan belajar berempati. Dari kegiatan ini pula lah anak Anda tidak hanya belajar berani mengekspresikan diri secara verbal tapi juga belajar perilaku sosial.

· Ceritakan padanya cerita yang lebih kompleks dan kenalkan beberapa kata-kata baru sambil menerangkan artinya. Lakukan ini secara terus menerus agar ia dapat mengingatnya dan mengenalinya dengan mudah ketika Anda mengulang cerita itu kembali di lain waktu.

3 - 4 Tahun


Anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang bersifat perintah; hal ini juga menunjukkan adanya rasa percaya diri yang kuat dalam menggunakan kata-kata dan menguasai keadaan. Mereka senang sekali mengenali kata-kata baru dan terus berlatih untuk menguasainya. Mereka menyadari, bahwa dengan kata-kata mereka bisa mengendalikan situasi seperti yang diinginkannya, bisa mempengaruhi orang lain, bisa mengajak teman-temannya atau ibunya. Mereka juga mulai mengenali konsep-konsep tentang kemungkinan, kesempatan, dengan “andaikan”, “mungkin”, “misalnya”, “kalau”. Perbendaharaan katanya makin banyak dan bervariasi seiring dengan peningkatan penggunaan kalimat yang utuh. Anak-anak itu juga makin sering bertanya sebagai ungkapan rasa keingintahuan mereka, seperti “kenapa dia Ma ?”, “sedang apa dia Ma?”, “mau ke mana ?”

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

· Hindari sikap mengkoreksi kesalahan pengucapan kata anak secara langsung, karena itu akan membuatnya malu dan malah bisa mematahkan semangatnya untuk belajar dan berusaha. Anda bisa mengulangi kata-kata tersebut secara jelas seolah Anda mengkonfirmasi apa yang dimaksudkannya. Dengan demikian, ia akan memahami kesalahannya tanpa merasa harus malu.

· Pada usia ini, seorang anak sudah mulai bisa mengerti penjelasan sederhana. Oleh sebab itu, Anda bisa mulai mencoba untuk mengajaknya mendiskusikan soal-soal yang sangat sederhana; dan tanyakan apa pendapatnya tentang persoalan itu. Dengan cara itu, Anda melatih cara dan proses penyelesaian masalah pada anak Anda setahap demi setahap. Hasil dari tukar pendapat itu sebenarnya juga mempertinggi self-esteem anak karena ia merasa pendapatnya didengarkan oleh orang dewasa.

· Mulailah mengeluarkan kalimat yang panjang dan kompleks, agar ia mulai belajar meningkatkan kemampuannya dalam memahami kalimat. Untuk mengetahui apakah ia memahami atau tidak, Anda bisa melihat respon dan reaksinya; jika ia melakukan apa yang Anda inginkan, dapat diartikan ia cukup mengerti kalimat Anda.

· Anak-anak sangat menyukai kegiatan berbisik karena hal itu permainan mengasikkan buat mereka sebagai salah satu cara mengekspresikan perasaan, dan keingintahuan.

· Pakailah cerita-cerita dongeng dan fabel yang sebenarnya mencerminkan dunia anak kita dan memakainya sebagai suatu cara untuk mengajarkan banyak hal tanpa menyinggung perasaannya. Dengan mendongeng, Anda mengenalkan padanya konsep-konsep tentang moralitas, nilai-nilai, sikap yang baik dan jahat, keadilan, kebajikan dan pesan-pesan moral lainnya. Jadikanlah saat-saat bersama anak Anda sebagai masa yang menyenangkan, ceria, santai dan segar. Buatlah ini menjadi kebiasaan di waktu-waktu tertentu, seperti sebelum tidur atau di waktu sore hari.

Nama: Dirham Gumawang A

NIM: 0808377

Jur: Pendidikan Luar Biasa

Bayi Pun Memahami Lingkungan Sekitarnya

Si kecil memiliki daya tangkap terhadap berbagai rangsang yang luar biasa. Bahkan ketika usianya masih 0 – 3 bulan … Wah, kalau begitu hati-hati memberinya contoh dan berkata-kata!

Membuka kontak: “Bunda Sayang!”. Sejak hari pertama pancaindera si kecil bak “radar”. Kilatan cahaya blitz, gelak tawa gembira orang-orang yang menanti kehadirannya dan senandung merdu sang bunda, “tertangkap” semua, meski dengan kadar “kejernihan” yang mungkin belum tajam.


“Bayi sangat ‘haus’ akan berbagai rangsang (rangsang suara, visual, rasa, sentuhan dan penciuman) dari luar dirinya, sebab dengan begitu si kecil memperoleh “latihan”, terutama aspek kognitif dan memorinya,” tutur Dr. Michael Kavek, psikolog perkembangan pada Universitas Bonn, Jerman.

Jadi, siapa bilang si kecil tak memahami sapaan lembut pertama yang diterimanya. Memang ia tak bisa menjawab atau membalas sapaan Anda tapi ia dapat menangkap rasa cinta yang Anda sampaikan melalui tatapan, usapan, dan pelukan. Dengan mata beningnya, si kecil pun menyapa, “Halo Bunda sayang!”.


Proses tumbuh-kembang otak si kecil di luar kandungan memang merupakan sebuah kesinambungan dari proses di masa hamil. Di usia bayi (0 – 2 tahun), jalinan sinaps yang “mengikat” sel-sel saraf otak menjadi semakin sempurna dan kokoh. Stimulasi berupa paparan beragam rangsang membangun otak menjadi sebuah struktur yang rumit. Ini adalah pertanda baik!

Sebaliknya semakin sedikit impuls rangsang yang diterima si kecil, maka bagian-bagian otak yang digunakan semakin sedikit. Akibatnya perkembangan kognitif pun tidak sepesat jika banyak “dilatih” oleh rangsang.


Semakin besar, semakin terampil. Memahami lingkungan sekitar dengan keseluruhan indera adalah “modal” belajar yang penting. Belajar dalam arti sesungguhnya! Apabila di usia 3 bulan perkembangan kemampuan menangkap rangsang si kecil berkembang dengan sangat pesat, maka di usia 4 bulan si kecil selain semakin matang, koordinasi fungsi inderanya juga semakin baik.

Sebagai contoh, kombinasi proses mendengar dan melihat si 4 – 5 bulan semakin baik. Pemahaman terhadap lingkungan sekitar juga semakin baik karenanya. Memasuki usia 5 – 6 bulan, ditambah lagi dengan kemampuan menangkap rangsang melalui kegiatan menggenggam dan meraba melalui indera perasa. Ini merupakan sebuah kemajuan penting yang mendukung perkembangan kemampuan berpikir secara abstrak.


Tentu saja kemajuan yang dialami si kecil ini tak terjadi begitu saja. Harus ada upaya aktif dari orang tua untuk melatihnya, agar pancaindera tak hanya berkembang secara “tepat waktu”, melainkan juga optimal. Nah, yang bisa dilakukan oleh Anda adalah memfasilitasi dengan berbagai mainan dan kegiatan yang menarik.


Bagi bayi yang baru lahir, mainan gantung dengan beragam rupa dan warna serta alunan musik dengan aneka nada adalah sarana wajib untuk mendukung kemampuan si kecil memahami apa yang terjadi di sekelilingnya. Sejak hari pertamanya itu, hingga ia mulai menjejakkan kakinya, paparan beragam material juga sangat penting untuk indera peraba. Karpet lembut, alas main dari bahan sintetik non-toxic atau soft toys dari bahan dengan beragam tekstur menjadi alat belajar yang sangat penting.

“Biarkan si kecil Anda terpapar bahan lembut, material dari wol yang berbulu, bahan kulit yang kasar atau kayu yang masif tapi licin secara bergantian,” demikian saran Dr. Kavek. Tentu tak hanya itu, banyak berbicara pada anak, menyanyikan lagu, membawa si kecil melihat pemandangan alam dan terpapar beragam situasi, baik keramaian dan kesunyian, juga perlu.



Banyak orang tua “tak berani” memberi latihan berupa beragam rangsang kepada bayi karena khawatir si kecil kelewat lelah akibat overstimulated. Padahal, “Bayi akan memberikan reaksi atau tanda apabila ia terlalu banyak menerima rangsang. Reaksi menolak bisa berupa tangisan atau sikap tak antusias dan menepis benda yang menjadi sumber rangsang adalah bahasa isyarat bahwa ia perlu rehat sejenak,” jelasnya lagi.


Cermat tak berarti khawatir. Sebagian besar orang tua selalu berpatokan pada chart tumbuh-kembang yang kini banyak ditemukan di berbagai situs, buku perkembangan atau majalah. Seperti juga yang terurai dalam boks “Tahapan Perkembangan Kognitif dan Pemahaman Si Kecil”, biasanya milestone mengacu pada tumbuh-kembang secara umum.
Namun, tak perlu terkejut atau heran, apabila yang terjadi pada si kecil Anda tidak sesuai dengan tahapan perkembangan yang dicapai rata-rata anak seusianya. Apakah ia lebih cepat atau sedikit lebih lambat. Sebab, setiap anak itu unik, sehingga hampir tak ada anak yang persis sama ciri khasnya, termasuk ritme perkembangannya. Tentu saja, batas Anda harus waspada adalah apabila perbedaannya sangat ekstrim. Misalnya, apabila si kecil nampaknya tak terpengaruh oleh rangsang dari lingkungan sekitarnya sama sekali atau respon yang diberikan sangat terbatas atau sangat lambat.

Hanya saja, karena pancaindera meliputi beberapa organ, apabila ada yang “mencurigakan”, Anda harus mencermati dengan seksama, di mana kira-kira sumber masalahnya. Bisa jadi terhambatnya kerja “radar” si kecil bukan akibat masalah pada tumbuh-kembang organnya, melainkan kurang “latihan”, kurang stimulasi.


Untuk itu, membawa si kecil kepada ahli tumbuh-kembang anak, terutama dokter spesialis anak untuk pemeriksaan secara rutin sangat penting. Dan, hal-hal yang Anda curigai dapat ditanyakan dan didiskusikan dengan sang ahli. Sebab, masalah apa pun yang menyebabkannya, penanganan secara dini sangat menguntungkan.

Kematangan Otak, dari Anak hingga Dewasa


Benarkah fungsi otak untuk menganalisa dan memecahkan masalah baru sempurna saat seseorang menginjak dewasa? Studi terbaru menjawab dugaan para ahli yang selama ini keliru.

Selama ini para ahli yakin bahwa “ledakan” tumbuh kembang otak terjadi di tahun-tahun pertama usia anak dan “menyurut” secara terus-menerus jika hubungan antar neuron (sel-sel saraf otak) tidak digunakan. Studi terbaru membuktikan bahwa dugaan tersebut keliru.


Hingga usia dewasa awal (19–40 tahun), kematangan otak manusia baru tercapai. Terutama, pada bagian korteks prefrontal, yang berfungsi sebagai pusat perencanaan ( planning ), mencari jalan keluar ( problem solving ), nalar, emosi, gerakan dan sebagian pusat bicara manusia. Itu artinya, masih ada banyak kesempatan yang mendukung tumbuh-kembang otak selama proses maturitas otak masih berjalan.



Berkembang pararel dengan evolusi otak



Studi yang dilakukan oleh peneliti gabungan dari National Health of Mental Health (NIMH) dan University of California, Los Angeles (UCLA) ini dilaporkan secara online dan resmi pada tanggal 17 Mei 2004 lalu. Studi ini dilakukan terhadap 13 anak dan remaja yang sehat, selama 15 tahun. Responden berusia antara 4 sampai 21 tahun.


Setiap anak di- scan dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) setiap dua tahun sekali. Kerja korteks (bagian terbesar otak manusia) direkam dalam bentuk film tiga dimensi. Dalam rekaman, jaringan korteks otak yang sedang aktif bekerja berwarna abu-abu sehingga sering disebut sebagai “ gray matter ” (bagian abu-abu).


Rekaman kerja otak menunjukkan bahwa bagian abu-abu menjadi matang dan semakin aktif di usia yang tahapan perkembangan ( milestone ) kognitif dan fungsionalnya juga semakin matang. Sebagaimana tumbuh kembang manusia, maka korteks menjadi matang sejalan dengan tahapan perkembangan. Artinya, “Urut-urutan maturasi otak umumnya terjadi secara paralel dengan evolusi otak mamalia,” jelas Nitin Gogtay dan rekan-rekan dari NIHM dan UCLA.

Matang secara bertahap


Studi yang antara lain melibatkan Judith Rapoport dan Paul Thompson ini menemukan bahwa bagian otak yang pertama kali menjadi matang adalah bagian depan dan belakang, yang antara lain berfungsi memproses sensasi indrawi dan melakukan gerakan. Kemudian, diikuti oleh maturitas bagian otak yang berfungsi mengembangkan orientasi spasial dan bahasa. Sedangkan bagian otak dengan fungsi-fungsi yang lebih lanjut, seperti mengintegrasikan informasi dari berbagai indra, matang paling akhir.


Hasil studi ini sangat berarti bagi para ahli yang menangani gangguan fungsi dan tumbuh kembang otak, seperti autisme dan schizofrenia, yang juga diteliti Rapoport dan rekan.


Selain itu, perspektif baru tumbuh kembang otak ini, menyebabkan ahli perkembangan, pendidikan dan neuroscience memiliki wawasan baru dan perlu membuat pendekatan berbeda dalam memandang perkembangan kecerdasan dan tumbuh kembang manusia.

Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. CACING CAWU - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger