Latihan optimalisasi fungsi pendengaran

Latihan pengoptimalan fungsi pendengaran menekankan kepada aktivitas
mendengar sebagai kemampuan dasar sekaligus sebagai komplementer dalam
keseluruhan proses latihan artikulasi dan latihan fungsi pendengaran untuk memahami
bunyi bahasa sebagai kemampuan paling tinggi yang harus dikuasai anak tunarungu.
Materi pengajaran BPBI seperti yang dapat dilihat pada modul 3, secara garis
besar dimulai dari mengenalkan bunyi-bunyi latar belakang sebagai taraf penghayatan
bunyi primitif, taraf penghayatan bunyi sebagai isyarat dan tanda (mengenal bunyi
alat-alat musik) sampai kepada taraf lambang bunyi yang tertinggi, yaitu penghayatan
bunyi bahasa.
Latihan-latihan mendengar/BPBI, yaitu :
1. Pengenalan berbagai bunyi dan sumber bunyi
Dalam kegiatan ini anak dikenalkan dan disadarkan pada benda atau alat yang
dapat menimbulkan bunyi-bunyi di sekitar anak. Terutama bunyi-bunyi yang banyak
menimbulkan getaran seperti: tambur, gong, tape, rebana, dll. Alasan memilih alat-alat
tersebut adalah karena pada tahap awal, anak baru dikenalkan bunyi-bunyi tadi
melalui getaran yang dirasakan oleh anak dengan jalan meraba sumber bunyinya.
Kemudian anak juga harus dapat merasakan ada getaran atau tidak pada sumber bunyi
yang dipegangnya.
Contoh: penggunaan tape recorder sebagai sumber bunyi.
Tape dihidupkan dengan keras dan anak diajak meraba salon/pengeras suara
untuk merasakan getarannya.
Setelah anak dapat merasakan getaran pada salon, tape recorder lalu
dimatikan dan anak merasakan getaran pada salon tidak ada lagi. Demikian
berganti-ganti dihidupkan lalu dimatikan secara berulang-ulang sehingga
anak bisa membedakan betul ada getaran atau tidak.
Bila anak merasakan getaran pada salon, baru kami katakan “ada bunyi tape
recorder”. Kalau getaran hilang, kami katakan “tidak ada bunyi tape
recorder”. Ini dilakukan baik secara individual maupun dalam kelompok
kecil dalam tempo yang cukup lama.
2. Latihan membedakan ada dan tidak ada bunyi
Pada kegiatan ini digunakan satu sumber bunyi dalam satu kesempatan latihan.
Untuk mengetahui anak dapat menangkap bunyi atau tidak, maka ia diminta untuk
bereaksi bila menangkap bunyi, dan anak harus diam atau tidak melakukan apa-apa
bila tidak menangkap bunyi.
Contoh:
Anak harus melompat ke dalam lingkaran bila mendengar bunyi tambur.
Atau anak harus menggoyang-goyangkan tangannya di atas kepala bila
mendengar bunyi bel.
Anak boleh menari bila ada bunyi tape recorder, dan diam bila bunyi tape
recorder tidak ada.
Seterusnya dilakukan kegiatan yang hampir sama untuk bunyi-bunyi yang lainnya,
hanya diberikan variasi permainan atau kegiatan agar anak tidak merasa bosan.
3. Latihan membedakan sumber bunyi
Latihan ini diberikan agar anak lebih berkonsentrasi pada sisa pendengarannya
supaya ia dapat mengetahui bunyi apa yang didengar atau ditangkapnya.
Contoh: sumber bunyi yang digunakan adalah tambur dan bel. Pelaksanaannya bisa
individual, atau kelompok.
Anak harus menyebut nama sumber bunyi yang didengarnya, sedangkan
bunyi-bunyi itu akan diperdengarkan secara bergantian pada anak.
Atau anak melakukan gerakan yang berbeda, seperti gerakan melompat bila
mendengar bunyi tambur dan mengangkat tangan sambil digoyangkan bila
menangkap bunyi bel.
4. Latihan mengenal berbagai sifat bunyi yang ada di sekitar.
Ada beberapa macam sifat bunyi, yaitu bunyi itu ada atau tidak ada, bersifat
panjang-pendek bunyi, keras-lembut bunyi, tinggi-rendah bunyi, cepat-lambat bunyi.
4.1. Latihan membedakan bunyi panjang pendek
Alat yang dapat digunakan adalah alat tiup atau tekan, seperti melodika,
pianika, terompet, peluit, atau organ elektrik.
Guru mengajak anak mengelilingi sumber bunyi
Guru menekan atau meniup alat musik dengan bunyi panjang: “tuuuut”.
Kemudian guru segera memberi istilah “anak-anak mendengar bunyi panjang”.
Guru menekan atau meniup alat musik dengan bunyi pendek : “tut” dengan
jarak beberapa detik, ulang lagi “tut” dan ulang lagi “tut”. Kemudian guru
memberikan istilah “anak-anak mendengar bunyi pendek”.
Guru dapat mengulangi hal tersebut beberapa kali untuk memberi kesempatan
kepada anak untuk mengatakan panjang atau pendek secara bersama-sama atau
perorangan. Latihan juga dapat diberikan melalui permainan.
4.2. Latihan membedakan bunyi keras lembut
Untuk melatihnya dapat menggunakan alat musik apa saja, seperti organ listik,
drum, rebana, pianika, melodika.
Guru mengajak semua anak, kemudian guru menugaskan salah satu anak
untuk memukulnya. Apabila pukulannya cukup keras, guru segera
mengatakan “uh, bunyi drum keras, ya!”. Anak disuruh meloncat dengan
tangan ke atas, atau bertepuk tangan kuat-kuat, atau melompat ke depan
sambil mengucapkan “pa” keras, atau anak menggambar garis tebal di papan
tulis. Demikian juga sebaliknya, ketika pukulan lembut, guru menyuruh anak
bertepuk lembut atau mengucapkan “pa” lembut atau anak berbisik kepada
temannya, “ssstt”, atau anak menggambar garis tipis di papan tulis.
Guru dapat menugaskan anak secara bergantian. Untuk lebih menghayati
perbedaan bunyi itu dapat dibarengi dengan ekspresi berbagai gerakan
spontan..
4.3. Latihan membedakan bunyi tinggi rendah
Instrumen yang digunakan adalah satu jenis alat musik (satu timbre), yaitu
organ, karena organ mempunyai nada terdiri dari beberapa oktaf. Guru melatih
perbedaan bunyi dengan kontras paling besar, misalnya beda nada C dan c’ (jarak 2
oktaf). Sedikit demi sedikit kontras kedua nada diperkecil/didekatkan, misalnya beda
nada c dan g (jarak 5 nada), akhirnya membedakan dua nada yang sangat dekat
jaraknya, misalnya beda c dan d (jarak 2 nada).
Guru mengajak anak mengelilingi organ.
Guru menekan tuts pada nada bas C beberapa detik, lihat reaksi anak. Guru
lalu menekan tuts pada nada c” (c kecil garis 2) beberapa detik, guru melihat
reaksi anak. Guru menanyakan, “sama atau tidak?”. Ulangi hal tersebut
beberapa kali hingga anak dapat mengatakan “tidak sama”. Saat guru menekan
nada tinggi, guru segera memberi istilah bunyi tinggi. Begitu juga sebaliknya,
ketika menekan nada rendah, guru memberi istilah, “anak-anak mendengar
bunyi rendah” .
Ulangi kegiatan ini beberapa kali hingga anak dapat mengatakan bunyi rendah
atau bunyi tinggi melalui berbagai aktivitas multisensori, merasakan resonansi
bunyi, merasakan vibrasi dengan menempelkan telapak tangannya pada organ.
Untuk lebih menghayati perbedaan bunyi itu dapat dibarengi dengan ekspresi
berbagai gerakan spontan.
4.4. Latihan membedakan bunyi cepat dan lambat
Intrumen yang digunakan sebaiknya alat musik pukul, misalnya drum, rebana,
tambur, kentongan, gamelan.
Anak mengelilingi sumber bunyi (alat musik pukul), guru memukulnya dengan
cepat, selang beberapa detik guru memukul dengan lambat. Guru memukulnya
beberapa kali.
Guru menyuruh anak memukul bergantian, anak-anak lain menirukannya
dengan bertepuk tangan, sambil mengatakan “cepat” atau “lambat”. Atau
dengan permainan menirukan hewan, ketika anak mendengar bunyi cepat, anak
menirukan burung terbang dengan merentangkan tangan sambil berlari.
Sebaliknya ketika anak mendengar bunyi lambat, anak menirukan seekor gajah
yang berjalan pelan-pelan.
5. Latihan gerak berirama
Gerak berirama merupakan perpaduan antara latihan mengenal gerak-gerak
dasar dan mengenal irama. Latihan mengenal gerak-gerak dasar (gerak dasar kaki,
lengan, bahu, jari, leher, panggul, mata dan gabungan gerak-gerak dasar) dan
mengenal irama (2/4, 3/4, 4/4, dsb) yang diwujudkan dalam latihan menari yang
dasar geraknya adalah irama tersebut, merupakan dasar bagi anak tunarungu untuk
mengenal gerak berirama akhirnya juga mengarah kepada perbaikan ucapan anak
agar semakin jelas dan berirama.
6. Latihan mendengar bahasa.
Dalam latihan ini anak bisa menggunakan Speech Trainer atau ABD anak
sendiri dan ABD kelompok (looping). Kegiatannya adalah:
Guru mengucapkan kata/kelompok kata yang sudah dikenal atau dikuasai
anak dengan jelas dan cukup keras. Anak diminta mendengarkan tanpa
melihat ujaran, lalu anak diminta mengulangi ucapan tersebut.
Guru menuliskan beberapa kata/kelompok kata yang sudah dikenal,
sedangkan anak diminta mendengarkan melalui speech trainer/ABD ucapan
guru, tanpa melihat ujarannya. Kemudian anak disuruh menunjukkan tulisan
yang sesuai dengan ucapannya.
Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. CACING CAWU - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger