Pengertian tes, diagnostik, evaluasi, dan asesmen

Untuk memperoleh gambaran secara jelas tentang asesmen, dipandang perlu untuk memahami perbedaan konsep antara tes, diagnostik, evaluasi dan asesmen secara benar. Hal ini disebabkan para mahasiswa maupun guru pendidikan luar biasa sering menggunakan istilah itu secara tidak tepat. Berkenaan dengan hal itu James A Mc.Lounghlin, Rena B Lewis, (1986) dan Jean Wallage Gillet, Charles Temple (1989) menjelaskan pengertian tes, diagnostik, evaluasi dan asesmen sebagai berikut: Tes digunakan untuk mendapatkan data yang bersifat kuantitatif di bawah kondisi yang terkontrol. Hasilnya digunakan untuk membandingkan seorang siswa atau suatu kolompok siswa dengan siswa lain atau kelompok lain. Hasil tes tidak dapat menjelaskan secara utuh tentang keadaan yang sesungguhnya dari seorang siswa yang di tes. Sebagai contoh ; hasil tes IQ pada dua orang anak dengan perolehan skor (IQ 70) tidak dapat menjelaskan realitas kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh kedua anak tadi. Artinya; kedua anak itu memiliki kebutuhan dan masalah yang berbeda dan tidak dapat diungkap oleh hasil tes dalam bentuk angka. Dengan demikian skor hasil tes tidak memberikan informasi yang bersifat spesifik tentang apa yang dapat dan tidak dilakukan oleh anak. Namun demikian hasil tes tetap penting untuk memperoleh gambaran seseorang secara umum. Istilah diagnostik dalam pendidikan sebetulnya diadopsi dari dari bidang medis. Dalam bidang medis, kegiatan diagnostik menghasilkan informasi yang mengarah kepada pelabelan. Sebagai contoh ; dalam bidang medis seoarang dokter melakukan diagnosis kepada seorang pasien. Hasil diagnosisnya mengin- formasikan bahwa pasien tadi mempunyai penyakit asma. Tindakan yang dilakukan pada pasien tersebut didasarkan kepada pelabelan hasil diagnosis. Dalam bidang pendidikan luar biasa misalnya, seorang psikolog melakukan diagnosis terhadap seorang anak. Hasil diagnosis psikolog tadi menginformasikan bahwa anak tersebut mengalami ketunagrahitaan ringan atau sedang. Gambaran seperti itu, bagi seorang guru masih mengalami kesulitan untuk mem-berikan layanan pendidikan kepada anak yang hanya didasarkan kepada pelabelan seperti itu. Evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk menggali informasi tentang kemampuan anak di dalam menguasai sesuatu (pelajaran) yang telah dipelajarinya. Artinya; evaluasi dilakukan setelah proses belajar berlangsung.. Sebagai contoh; guru ingin mengetahui apakah pelajaran matematika yang disampaikan kepada para siswanya telah diserap dengan baik atau belum. Untuk mengetahui hal itu, maka diakhir proses belajar-mengajar guru melakukan kegiatan evaluasi. Dengan demikian seorang guru dapat mengukur seberapa jauh materi yang telah disampaikan dapat dan telah dikuasai para siswanya. Dalam implementasinya evaluasi seringkali diakukan diakhir proses belajar, sekalipun sesungguhnya evaluasi dapat dilakukan pada saat proses belajar berlangsung, karena fungsi evaluasi untuk mengukur tingkat penguasaan seseorang atau kelompok terhadap materi yang disampaikan.
Asesmen adalah proses yang sistimatis dalam mengumpulkan data seorang anak. Dalam kontek pendidikan asesmen berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Berdasarkan informasi itulah seorang guru akan dapat menyusun program
3
pembelajaran yang bersifat realistis sesuai dengan kenyataan obyektif dari anak tersebut. Sebagai contoh; dari hasil asesmen diperoleh informasi bahwa anak itu mengalami kesulitan dalam hal bicara, dan bukan kepada pelabelan bahwa anak itu disleksia. Selanjutnya instrumen asesmen disusun untuk menemukan hal-hal yang sangat spesifik berkaitan dengan masalah bicara tadi dan bukan untuk menemukan syndroma global atau pelabelan. Dengan demikian program pendidikan didasaarkan kepada kebutuhan, dan bukan pada kecatatan seorang anak. Di lapangan asesmen dan evaluasi sering menjadi samar dan digunakan secara tidak tepat. Evaluasi dan asesmen memang memiliki kemiripan, namun keduanya sangat berbeda. Dilihat dari pelaksanaannya; evaluasi dilakukan diakhir proses belajar atau di saat proses belajar berlangsung, sementara tindakan asesmen bukan hanya dilakukan diakhir dan disaat proses belajar berlangsung, tetapi jauh sebelum proses belajar itu terjadi, asesmen telah dilakukan dan proses ini akan terus bergulir tanpa henti.. Dilihat dari kontennya (instrumen); evaluasi diambil dari materi yang diberikan, sementara asesmen didasarkan kepada masalah dan kemampuan yang dimiliki anak Dilihat dari tujuan; evaluasi semata-,mata hanya untuk mengukur seberapa jauh materi itu dapat diserap atau dikuasai, sementara asesmen untuk melihat kondisi anak saat itu dalam rangka menyusun suatu program pembelajaran sehingga dapat melakukan intervensi secara tepat. Tes, diagnosis, evaluasi dan asesmen satu sama lain saling berhubungan, tetapi keempatnya mempunyai makna yang berbeda. Dalam hubungannya dengan pengembang-an program pembelajaran individual (PPI), asesmen menjadi sangat sentral disbanding-kan dengan tes, diagnostik dan evaluasi, sebab berdasarkan hasil asesmen itulah program pembelajaran individual (PPI) dapat disusun dan dikembangkan. Namun demikian tes, diagnostik dan evaluasi tetap penting untuk mengetahui keberadaan anak, tetapi bukan untuk kepentingan dalam penyusunan program.
sumber : Dr. Endang Rochyadi,M.Pd
Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. CACING CAWU - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger