Makalah pendidikan inklusif

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III ayat 5 dinyatakan bahwa setiap warganegara mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa anak berkelainan berhak pula memperoleh kesempatan yang sama dengan anak lainnya (anak normal) dalam pendidikan.
Selama ini, pendidikan bagi anak berkelainan disediakan dalam tiga macam lembaga pendidikan, yaitu Sekolah Berkelainan (SLB),
Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), dan Pendidikan Terpadu. SLB, sebagai lembaga pendidikan khusus tertua, menampung anak dengan jenis kelainan yang sama, sehingga ada SLB Tunanetra, SLB Tunarungu, SLB Tunagrahita, SLB Tunadaksa, SLB Tunalaras, dan SLB Tunaganda.
Sedangkan SDLB menampung berbagai jenis anak berkelainan, sehingga di dalamnya mungkin terdapat anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, dan/atau tunaganda.
Sedangkan pendidikan terpadu adalah sekolah biasa yang juga menampung anak berkelainan, dengan kurikulum, guru, sarana pengajaran, dan kegiatan belajar mengajar yang sama.
 Namun selama ini baru menampung anak tunanetra, itupun perkembangannya kurang menggembirakan karena banyak sekolah umum yang keberatan menerima anak berkelainan.
Pada umumnya, lokasi SLB berada di Ibu Kota Kabupaten. Padahal anak-anak berkelainan tersebar hampir di seluruh daerah (Kecamatan/Desa), tidak hanya di Ibu Kota Kabupaten.

Akibatnya, sebagian anak-anak berkelainan, terutama yang kemampuan ekonomi orang tuanya lemah, terpaksa tidak disekolahkan karena lokasi SLB jauh dari rumah; sementara kalau akan disekolahkan di SD terdekat, SD tersebut tidak bersedia menerima karena merasa tidak mampu melayaninya. Sebagian yang lain, mungkin selama ini dapat diterima di SD terdekat, namun karena ketiadaan pelayanan khusus bagi mereka, akibatnya mereka beresiko tinggal kelas dan akhirnya putus sekolah. Permasalahan di atas akan berakibat pada kegagalan program wajib belajar.
Untuk mengantisipasi hal di atas, dan dalam rangka menyukseskan wajib belajar pendidikan dasar, dipandang perlu meningkatkan perhatian terhadap anak-anak berkelainan, baik yang telah memasuki sekolah umum (SD) tetapi belum mendapatkan pelayanan pendidikan khusus maupun anak-anak berkelainan yang belum sempat mengenyam pendidikan sama sekali karena tidak diterima di SD terdekat atau karena lokasi SLB jauh dari tempat domisilinya.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi anak berkelainan.
Pada penjelasan pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.
Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan pendidikan bagi anak berkelainan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusif. Secara lebih operasional, hal ini diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor Tahun tentang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus.
Melalui pendidikan inklusif, anak berkelainan dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan (berkelainan) yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas.
Oleh karena itu, anak berkelainan perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan anak normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah (SD) terdekat. Sudah barang tentu SD terdekat tersebut perlu dipersiapkan segala sesuatunya. Pendidikan inklusi diharapkan dapat memecahkan salah satu persoalan dalam penanganan pendidikan bagi anak berkelainan selama ini. Tidak mungkin membangun SLB di tiap Kecamatan/Desa sebab memakan biaya yang sangat mahal dan waktu yang cukup lama
Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan ABK belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya (Sapon-Shevin).
Hal ini merupakan gagasan mulia dimana ABK yang tidak terjamah atau jauh dari layanan pendidikan dapat mengenyam pendidikan yang sama seperti anak pada umumnya.
Namun dalam pelaksanaannya di Indonesia masih terdapat beberapa kekurangan sehingga menghambat penyelenggaraan pendidikan inklusif. Salah satunya  adalah masih kurangnya guru pembimbing khusus untuk melayani kebutuhan anak yang memiliki kebutuhan khusus.
Untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, maka diperlukan komponen-komponen pendukung agar pendidikan inklusif berjalan dengan baik. Oleh karena itu maka dalam makalah ini akan mengkaji lebih dalam tentang sistem pendidikan inklusif.

B.    Rumusan Masalah
1.    Bagaimana penyelenggaraan pendidikan inklusif di SDN KPAD Bandung?
2.    Bagaimana kondisi objektif SDN KPAD Bandung?
3.    Apa yang  menjadi faktor pendukung dan penghambat penyelenggaraan pendidikan inklusif di SDN KPAD Bandung?
4.    Bagaimana analisis penyelenggaraan pendidikan inklusif di SDN KPAD Bandung?

C.    Tujuan Penulisan
1.    Mengetahui penyelenggaraan pendidikan inklusif di SDN KPAD Bandung
2.    Mengetahui kondisi objektif SDN KPAD Bandung
3.    Mengetahui Apa yang  menjadi faktor pendukung dan penghambat penyelenggaraan pendidikan inklusif di SDN KPAD Bandung
4.    Mengetahui analisis penyelenggaraan pendidikan inklusif di SDN KPAD Bandung

D.    Sistematika Penulisan
BAB I   
Pendahuluan            : A. Latar Belakang
                      B. Rumusan Masalah
                      C. Tujuan Penulisan
                      D. Sistematika Penulisan
BAB II   
Landasan Teori        : A. Pengertian Pendidikan Inklusif
                    B. Landasan Filosofis Pendidikan Inklusif
     C. Aspek Penting Dalam Pelaksanaan Pendidikan Inklusif
BAB III
Laporan Hasil Observasi    : A. Identitas Sekolah
                  B. Kondisi Objektif Sekolah
                  C. Faktor Pendukung dan Penghambat
                  D. Analisis
BAB IV            : A. Kesimpulan
                  B. Saran





BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Pengertian Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan-hambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan. Hambatan yang ada bisa terkait dengan masalah etnik, gender, status sosial, kemiskinan dan lain-lain. Dengan kata lain pendidikan inklusi adalah pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
Alimin (2005) menjelaskan bahwa pendidikan inklusi adalah sebuah proses dalam merespon kebutuhan yang beragam dari semua anak melalui peningkatan partisipasi dalam belajar, budaya dan masyarakat, dan mengurangi eklusivitas di dalam pendidikan. Pendidikan inklusif mencakup perubahan dan modifikasi dalam isi, pendekatan-pendekatan, struktur dan strategi yang dapat mengakomodasi kebutuhan semua anak seseuai dengan kelompok usianya.
Pendidikan inklusif juga dapat dipandang sebagai bentuk kepedulian dalam merespon spekturm kebutuhan belajar peserta didik yang lebih luas, dengan maksud agar baik guru maupun siswa, keduanya memungkinkan merasa nyaman dalam keberagaman dan melihat keragaman sebagai tantangan dan pengayaan dalam lingkungan belajar, keberagaman bukan sebagai masalah. Pendidikan inklusif juga akan terus berubah secara pelan-pelan sebagai refleksi dari apa yang terjadi dalam prakteknya, dalam kenyataan, dan bahkan harus terus berubah jika pendidikan inklusif ingin tetap memiliki respon yang bernilai nyata dalam mengahapi tantangan pendidikan dan hak azasi manusia.
Meskipun definsi tentang pendidikan inklusif itu bersifat progresif dan terus berubah, namun tetap diperlukan kejelasan konsep yang terkandung didalamnya, karena banyak orang menganggap bahwa pendidikan inklusif sebagai versi lain dari pendidikan khusus/PLB (special esucation).

Konsep yang mendasari pendidian inklusif sangat berbeda dengan konsep yang mendasari pendikan khusus (special education). Inklusi atau pendidikan inklusif bukanlah istilah lain dari pendidikan khusus. Konsep pendidikan inklusif mempunyai banyak kesamaan dengan konsep yang mendasari pendidikan untuk semua (education for all) dan konsep tentang perbaikan sekolah (schools improvement)
Dalam seminar Agra tahun 1998 telah dirumuskan bahwa esensi pendidikan inklusi hakekatnya:
1.    pendidikan yang lebih luas daripada pendidikan formal mencakup pendidikan di rumah, masyarakat, sistem nonformal dan informal.
2.    Pendidikan inklusif adalah suatu pendidikan yang mengakui bahwa  semua anak dapat belajar.
3.    Memungkinkan struktur, sistem dan metodologi pendidikan memenuhi kebutuhan semua anak.
4.    Mengakui dan menghargai berbagai perbedaan pada diri anak,yaitu mengakui adanya perbedaan  usia, jender, etnik, bahasa, ketunaan, status HIV/AIDS dll.
5.    Merupakan proses yang dinamis yang senantiasa berkembang sesuai dengan budaya dan konteksnya.
6.    Merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mempromosikan masyarakat yang inklusif.
Definisi di atas menggambarkan sebuah model pendidikan inklusif yang mendasarkan konsep-konsep tentang: anak, system pendidikan, keragaman dan diskriminasi, proses memajukan inklusi, dan konsep tentang sumber daya. Secara terperinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Konsep tentang Anak
a)    Hak semua anak untuk memperoleh pendidikan di dalam masyarakatnya sendiri
b)    Semua anak dapat belajar dan anak dapat mengalami kesulitan dalam belajar
c)    Semua anak membutuhkan dukungan dalam belajar
d)    Pembelajar berpusat pada anak menguntungkan semua anak
2.     Konsep tentang Sistem Pendidikan dan Sekolah
a)    Pendidikan lebih luas dari pada pendidikan formal di sekolah (formal schooling)
b)    Fleksibel, sistem pendidikan bersifat responsif
c)    Lingkunngan pendidikan ramah terhadap anak
d)    Perbaikan mutu sekolah dan sekolah yang efektif
e)    Pendekatan yang menyeluruh dan kolaborasi dengan mitra kerja
3.     Konsep tentang Keberagaman dan Diskriminasi
a)    Menghilangkan diskriminasi dan pengucilan (exclusion)
b)    Memandang keragaman sebagai sumber daya, bukan sebagai masalah
c)    Pendidikan inklusif menyiapkan siswa yang dapat menghargai perbedaan-perbedaan
4.    Konsep tentang Proses Memajukan Inklusi
a)    Mengidentifikasi dan mengatasi hambatan dalam inklusi
b)    Meningkatkan partisipasi nyata dari semua pihak
c)     Kolaborasi dan kemitraan
d)    Metodologi partisipatori, penelitian tindakan dan kolaboratif inkuiri
5. Konsep tentang Sumberdaya
a)    Memanfaatkan sumber daya loakal yang tersedia (local resources)
b)    Mendistribusikan sumber daya yang tersedia
c)    Memandang manusia ( anak, orang tua, guru, kelompok orang yang termarginal kan dsb) sebagai sumberdaya kunci
Suberdaya yang tepat di sekolah dan masyarakat dibutuhkan untuk anak-anak yang berbeda. Sebagai contoh Braille, alat-alat bantuan (assistive divice)

B.    Landasan Filosofis Pendidikan Inklusif
1.    Pernyataan Salamanca (1994) yang menyatakan bahwa:
•    Setiap anak mempunyai hak mendasar untuk memperoleh pendidikan, dan harus diberi kesempatan untuk mencapai serta mempertahankan tingkat pengetahuan yang wajar.
•    Setiap anak mempunyai karakteristik, minat, kemampuan dan kebutuhan belajar yang berbeda-beda
•    Sistem pendidikan seyogyanya dirancang dan program pendidikan dilaksanakan dengan memperhatikan keanekaragaman karakteristik dan kebutuhan tersebut
•    Mereka yang menyandang kebutuhan pendidikan khusus harus memperoleh akses ke sekolah reguler yang harus mengakomodasi mereka dalam rangka pedagogi yang berpusat pada diri anak yang dapat memenuhi kebutuhankebutuhan tersebut
•    Sekolah reguler dengan orientasi inklusif tersebut merupakan alat yang paling efektif untuk memerangi sikap diskriminasi, menciptakan masyarakat yang ramah, membangun masyarakat yang inklusif dan mencapai Pendidikan bagi Semua; lebih jauh, sekolah semacam ini akan memberikan pendidikan yang lebih efektif kepada mayoritas anak dan meningkatkan efisiensi dan pada akhirnya akan menurunkan biaya bagi seluruh sistem pendidikan
2.    Kerangka Aksi mengenai Pendidikan Kebutuhan Khusus (Unesco, 1994) mengakui prinsip bahwa sekolah seyogyanya mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial, emosi, linguistik ataupun kondisi-kondisi lainnya. Ini seyogyanya mencakup anak cacat dan anak berbakat, anak jalanan dan anak kaum buruh, anak dari penduduk terpencil ataupun pengembara, anak dari kelompok masyarakat minoritas secara linguistik, etnik ataupun budaya. Kondisi-kondisi tersebut menciptakan berbagai macam tantangan bagi sistem persekolahan.

C.    Aspek Penting dalam Pendidikan Inklusif
Sebelum membahas aspek-aspek penting dalam pendidikan inklusif, terlebih dahulu penulis perlu memberikan gambaran tentang konsep dasar ABK yang dibahas dalam makalah ini.
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah mereka yang mempunyai kebutuhan, baik permanen maupun sementara, yang disebabkan oleh kondisi sosial-emosi, dan/atau, kondisi ekonomi dan/atau, kondisi politik dan/atau, kelainan bawaan maupun yang didapat kemudian. Dengan kata lain, kita tidak hanya membicarakan kelompok minoritas yang disebabkan oleh kelainan saja, tetapi mencakup sejumlah besar anak yang sekolah.
Oleh karenanya, sekolah hendaknya mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, ataupun kondisi-kondisi lainnya. Sekolah harus mencari cara agar berhasil mendidik semua anak, termasuk mereka yang berkebutuhan pendidikan khusus.
Mengubah sekolah atau kelas tradisional menjadi inklusif, ramah terhadap pembelajaran merupakan suatu proses dan bukan suatu kejadian tiba-tiba. Proses ini tidak akan terjadi dalam sehari, karena memerlukan waktu dan kerja kelompok. Selanjutnya aspek-aspek penting yang harus diperhatiakan dalam menyelenggarakan sekolah yang inklusif adalah:
1.    Guru perlu mengetahui bagaimana cara mengajar anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam. Peningkatan kemampuan ini dapat kita lakukan dengan berbagai cara, seperti: pelatihan, tukar pengalaman, lokakarya, membaca buku, dan mengeksplorasi/menggali sumber lain, kemudian mempraktekkannya di dalam kelas.
2.    Semua anak memiliki hak untuk belajar, tanpa memandang perbedaan fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa atau kondisi lainnya, seperti yang ditetapkan dalam Konvensi Hak Anak yang telah ditandatangani semua pemerintah di dunia.
3.    Guru menghargai semua anak di kelas, guru berdialog dengan siswanya; guru mendorong terjadinya interaksi di antara anak-anak; guru mengupayakan agar sekolah menjadi menyenangkan; guru mempertimbangkan keragaman di kelasnya; guru menyiapkan tugas yang disesuaikan untuk anak; guru mendorong terjadinya pembelajaran aktif untuk semua anak.
4.    Dalam lingkungan pembelajaran yang inklusif, setiap orang berbagi visi yang sama tentang bagaimana anak harus belajar, bekerja dan bermain bersama. Mereka yakin, bahwa pendidikan hendaknya inklusif, adil dan tidak diskriminatif, sensitif terhadap semua budaya, serta relevan dengan kehidupan sehari-hari anak.
5.    Lingkungan pembelajaran yang inklusif mengajarkan kecakapan hidup dan gaya hidup sehat, agar peserta didik dapat menggunakan informasi yang diperoleh untuk melindungi diri dari penyakit dan bahaya. Selain itu, tidak ada kekerasan terhadap anak, pemukulan atau hukuman fisik.
Menurut laporan UNESCO tahun 2003, ketika Pendidikan Inklusif diterapkan, penelitian terkini menunjukkan adanya peningkatan prestasi dan kemajuan pada semua anak. Di banyak daerah di dunia dilaporkan, bahwa diperoleh manfaat pribadi, sosial, dan ekonomi dengan mendidik anak-anak usia sekolah dasar yang memiliki kebutuhan khusus di sekolah umum. Kebanyakan siswa dengan kebutuhan khusus ini berhasil diakomodasi dengan lebih menyenangkan melalui cara yang ramah dan menghargai keragaman ini.
Adapun manfaat lingkungan pembelajaran yang inklusif adalah sebagai berikut:
1.    Manfaat bagi anak, yaitu: kepercayaan dirinya berkembang; bangga pada diri sendiri atas prestasi yang diperolehnya; belajar secara mandiri; mencoba memahami dan mengaplikasikan pelajaran di sekolah dalam kehidupan sehari-hari; berinteraksi secara aktif bersama teman dan guru; belajar menerima perbedaan dan beradaptasi terhadap perbedaan; dan anak menjadi lebih kreatif dalam pembelajaran.
2.    Manfaat bagi guru, antara lain: mendapat kesempatan belajar cara mengajar yang baru dalam melakukukan pembelajaran bagi peserta didik yang memiliki latar belakang dan kondisi yang beragam; mampu mengatasi tantangan; mampu mengembangkan sikap yang positif terhadap anggota masyarakat, anak dan situasi yang beragam; memiliki peluang untuk menggali gagasan-gagasan baru melalui komunikasi dengan orang lain di dalam dan di luar sekolah; mampu mengaplikasikan gagasan baru dan mendorong peserta didik lebih proaktif, kreatif, dan kritis; memiliki keterbukaan terhadap masukan dari orangtua dan anak untuk memperoleh hasil yang positif.
3.    Manfaat bagi orangtua, antara lain: orangtua dapat belajar lebih banyak tentang bagaimana anaknya dididik; mereka secara pribadi terlibat dan merasa lebih penting untuk membantu anak belajar. Ketika guru bertanya pendapat mereka tentang anak; orangtua merasa dihargai dan menganggap dirinya sebagai mitra setara dalam memberikan kesempatan belajar yang berkualitas untuk anak; orangtua juga dapat belajar bagaimana cara membimbing anaknya di rumah dengan lebih baik, yaitu dengan menerapkan teknik yang digunakan guru di sekolah.
4.    Manfaat bagi masyarakat, antara lain: masyarakat lebih merasa bangga ketika lebih banyak anak bersekolah dan mengikuti pembelajaran; masyarakat menemukan lebih banyak "calon pemimpin masa depan" yang disiapkan untuk berpartisipasi aktif di masyarakat. Masyarakat melihat bahwa potensi masalah sosial, seperti: kenakalan dan masalah remaja bisa dikurangi; dan masyarakat menjadi lebih terlibat di sekolah dalam rangkah menciptakan hubungan yang lebih baik antara sekolah dan masyarakat.





BAB III
LAPORAN HASIL OBSERVASI

A.    Identitas Sekolah
Nama Sekolah            : SDN KPAD Bandung
NSPN                : 20244862
Alamat Sekolah            : Jalan Manunggal KPAD
Nama Kepala Sekolah         : Dra. Ani Karmini
NIP/NIK Kepala Sekolah     : 195801201982042001

B.    Kondisi Objektif Sekolah

C.    Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat


D.    Analisis


BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
•    Sosialisasi tentang konsep pendidikan inklusi yang belum sampai, sehingga masih terdapat anggapan jika pendidikan inklusi itu adalah memasukkan ABK ke sekolah regular.
•    Sosialisasi tentang konsep pendidikan inklusi yang belum sampai, sehingga masih terdapat anggapan jika pendidikan inklusi itu adalah memasukkan ABK ke sekolah regular.
•    Perlunya komitmen yang serius dari pihak pemerintah untuk mengawal pendidikan inklusi ini agar pada tataran teknis dapat terlaksana, khususnya dalam pemenuhan system pendidikan inklusi.
•    Masih kurangnya dukungan yang di dapat oleh sekolah dalam melaksanakan pendidikan inklusi di sekolah. Sehingga hal ini masih menjadi tanggung jawab besar pemerintah, dan belum menjadi tanggung jawab bersama.


B.    Saran
•    Terus digencarkannya sosialisasi tentang konsep pendidikan inklusi, agar tidak terdapat kesalahpahaman dalam memahaminya.
•    Perlunya menggalakkan dukungan untuk membantu terselenggaranya pendidikan inklusi khususnya pemenuhan system pendidikan inklusi.
•    Tingkatkan kesadaran bahwa pendidikan untuk semua bukan hanya tugas pemerintah namun tugas bersama.

Daftar Pustaka
Anymous. 2009. Perkembangan Anak Sebangai Pribadi  yang Unik. Tersedia :
http://abihafiz.wordpress.com/2009/03/27/perkembangan-anak-sebagai-pribadi-yang-unik/
Anymous. (2010). Pendidikan Inklusi (Pendidikan terhadap Anak Berkebutuhan
Khusus). [Online]. Tersedia : http://smanj.sch.id/index.php/arsip-tulisan-bebas/40-artikel/115-pendidikan-inklusi-pendidikan-terhadap-anak-berkebutuhan-khusus [05 Oktober 2010]
Kuswarini, V. (2010). Yang Termarjinalkan, Pendidikan bagi Penyandang Cacat.
[Online].Tersedia:http://rsolo.depsos.go.id/index.php/informasi/berita/182-yang-termarginalkan-pendidikan-bagi-penyandang-cacat.html [05 Oktober 2010]
Situmorang, J. (2008). Pendidikan Inklusi di indonesia Peluang dan Tantangan.
[Online]. Tersedia :http://jamisten.wordpress.com/2008/12/10/pendidikan-inklusi/ [05 Oktober 2010]
Smith, D. (2006). Inklusi Sekolah Ramah untuk Semua. Bandung : Penerbit
Nuansa
Stubbs, Sue. ( 2002).  Pendidikan Inklusif Ketika Hanya ada Sedikit Sumber. The Atlas Alliance.
Tarsidi, D. (2008). Pendidikan Inklusif : Landasan. [Online]. Tersedia : http://d
tarsidi.blogspot.com/2008/06/pendidikan-inklusif-landasan.html [05 Oktober 2010]
Widiastuti, R. 2009. Sekolah Inklusi ; Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus
Tersedia : http://blog.unila.ac.id/ratnawidiastuti/2009/07/24/makalah-semina/
Zeta, N. 2009. Manusia Sebagai Mahkluk Individu. Tersedia :
http://www.scribd.com/doc/24344438/Manusia-Sebagai-Mahkluk-Individu
Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. CACING CAWU - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger