Makalah Konseling Anak Berkebutuhan Khusus

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar, dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang-undang No. 20 tahun 2003: pasal 1 ayat 1). Untuk mencapai tujuan pendidikan diatas maka diperlukan adanya kegiatan bimbingan dan konseling, karena bimbingan dan konseling bagian integral (tidak terpisahkan) dari seluruh program pendidikan.
Konseling merupakan suatu proses untuk memebantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap waktu. (Division of Conseling Psychologi). Sedangkan menurut ahli lainnya konseling ditunjukan oleh suatu hubungan antara pemberi bantuan yang terlatih dengan seorang yang mencari bantuan, bantuan yang diberikan berupa keterampilan dan penciptaan suasana yang membantu orang lainagar dapat belajar berhubungan dengan dirinya sendiri dabn orang lain melalui cara-cara yang lebih tumbuh dan produktif (Cavanagh, 1982). Dan menurut Amerika School Counselor Asosiation (ASCA) konseling merupakan hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan Pemberian kesempatan dari konselor kepada klien, konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu kliennya mengatasi masalah-masalah.
Konseling seharusnya tidak hanya berada disekolah-sekolah reguler saja melainkan di sekolah luar biasa (SLB) pun penting adanya. Karena pada dasarnya setiap sekolah membutuhan konselor untuk mengatasi permasalahan yang terjadi disekolah tersebut.
Disekolah Luar Biasa pada umumnya belum mempunyai Konselor untuk mengatasi permasalahan-permasalahan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Tetapi di sekolah-sekolah luar biasa ini tugas konselor dibebankan kepada guru kelas, atau guru yang ditunjuk oleh langsung oleh kepala sekolah.
Pada dasarnya Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memiliki permasalahan yang relatif sama dengan anak pada umunya. Sehingga diperlukan adanya seorang konselor untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi anak baik permasalahan akademik ataupun permasalahan non akademik. Oleh karena itu, diperlukan Konseling ABK untuk mengembangkan potensi secara optimal bagi anak. 

B.    Rumusan Masalah
1.    Apa permasalahan yang dialami klien?
2.    Bagaimana penerapan proses konseling yang dilakukan menggunakan teori konseling “Client Centered”?

C.    Tujuan
1.    Mengetahui permasalahan yang dialami klien.
2.    Mengetahui penerapan proses konseling yang dilakukan menggunakan teori “Client Centered”.













BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Pengertian Konseling
Pada dasarnya, konselor merupakan pembimbing untuk membantu mengoptimalkan individu. Bimbingan merupakan suatu alat untuk mendewasakan anak. Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.
Bimbingan dan konseling adalah suatu proses pemberian bantuan kepada seseorang dan atau sekelompok orang yang bertujuan agar masing-masing individu mampu mengembangkan dirinya secara optimal, sehingga dapat mandiri dan atau mengambil keputusan secara bertanggungjawab
Tujuan bimbingan adalah agar individu dapat :
1.    Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier, serta kehidupan pada masa yang akan datang.
2.    Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin.
3.    Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta lingkungan kerjanya.
Mengatasi hambatan serta kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, ataupun lingkungan kerjanya.
Fungsi bimbingan yaitu sebagai berikut:
1.    Fungsi pengembangan, merupakan fungsi bimbingan dalam mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki individu.
2.    Fungsi penyaluran, merupakan fungsi bimbingan dalam membantu individu memilih dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian, dan ciri- ciri kepribadian lainnya.
3.    Fungsi adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan khususnya guru atau dosen, wydiaiswara, dan wali kelas untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar belakang
pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan individu.
Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu individu menemukan penyesuaian diri dari perkembangannya secara optimal.
Tujuan Konseling pada umumnya dan disekolah khususnya adalah sebagai berikut:
1.    Mengadakan perubahan perilaku pada diri individu sehingga memungkinkan hidupnya lebih produktif dan memuaskan.
2.    Memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif.
3.    Penyelesaian masalah.
4.    Mencapai keefektifan pribadi.
5.    Mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya.
a.    Jenis-Jenis Bimbingan
Jenis bimbingan dibagi menjadi empat bagian yaitu:
1.    Bimbingan akademik, yaitu bimbingan yang diarahkan untuk membantu para individu dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah akademik.
2.    Bimbingan sosial pribadi, merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial pribadi.
3.    Bimbingan karier, yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan, mengembangkan, dan menyelesaikan masalah-masalah karier, seperti pemahaman terhadap tugas-tugas kerja.
Bimbingan keluarga, merupakan upaya pemberian bantuan kepada para individu sebagai pemimpin atau anggota keluarga agar mereka mapu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdaya diri secara produktif, dapat menciptakan dan menyesuaikan diri dengan norma keluarga, serta berperan serta berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.

B.    Pengertian Proses Konseling
Proses Konseling Cormier & Hackey (dalam Gibson & Mitchell, 1995:143) mengidentifikasi empat tahapan proses konseling yakni membangun hubungan, identifikasi masalah dan eksplorasi, perencanaan pemecahan masalah, aplikasi solusi dan pengakhiran.
    Sedangkan Prayitno (1998:24) menyebutkan bahwa ada lima tahap proses konseling yakni pengantaran, penjajagan, penafsiran, pembinaan dan penilaian. Soli Abimanyu dan M. Thayeb Manrihu (1996) mengklasifikasikan konseling perorangan kepada lima tahap yang diawali dari pengembangan tata formasi dan iklim hubungan konseling awal, eksplorasi masalah, mempersonalisasi, mengembangkan inisiatif, mengakhiri dan menilai konseling.
    Berdasarkan pendapat ketiga ahli di atas, terdapat kesamaan pentahapan dalam konseling perorangan. Dapat disimpulkan bahwa proses konseling perorangan dilakukan dalam 3 bagian penting yakni :
1.    Tahap Awal
a)    Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling, terutama asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan; dan kegiatan.
b)    Memperjelas dan mendefinisikan masalah.
Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri, maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien.
c)    Membuat penaksiran dan perjajagan
Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan, Menegosiasikan kontrak
d)    Kontrak waktu, kontrak tugas, kontrak kerjasama
2.    Tahap Inti
a)    Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali), bersama-sama klien meninjau kembali  permasalahan yang dihadapi klien.
b)    Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.
Hal ini bisa terjadi jika : Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling, serta menampakKan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat  menunjukkan pribadi yang  jujur, ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien.
a)    Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak.
Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga, baik oleh pihak konselor maupun klien.
3.    Tahap akhir
a)    Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling
b)    Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari  proses konseling sebelumnya.
c)    Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).

C.    Pengertian Teknik Konseling
Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan, yaitu teknik umum dan teknik khusus.
1.    Tehnik Umum
Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasaioleh konselor. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum.
a)    Perilaku Attending
Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakupkomponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan.
b)    Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakanklien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending, tanpa perilakuattending mustahil terbentuk empati.
c)    Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya
d)    Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan dan terancam.
e)    Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien, mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana, biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya, dan mengamati respons klien terhadap konselor.
f)    Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan, pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question).
g)    Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka, dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup, yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat.
h)    Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien.
i)    Interpretasi  Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran, perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori, bukan pandangan subyektif konselor, dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut.
j)    Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu.
k)    Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas
2.    Tehnik Khusus
Teknik-Teknik Khusus Dalam konseling, di samping menggunakan  teknik-teknik umum, dalam hal-haltertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling, seperti Pendekatan Behaviorisme, Rational Emotive Theraphy, Gestalt dan sebagainya.

D.    Konsep Dasar Client Centered
Client Centered (Konseling Berpusat Klien) Model konseling berpusat pribadi dikembangkan oleh Carl R. Rogers. Konseling yang berpusat kepada pribadi sering pula disebut sebagai konseling yang berpusat kepada klien, konseling teori diri (self theory), atau konseling Rogerian. Disebut sebagai konseling Rogerian, karena Carl Ransom Roger merupakan pelopor sekaligus tokoh dari konseling ini.
Carl R. Rogers mengembangkan terapi client-centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Terapis berfugsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi seseorang dengan jalan membantunya dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan client centered ini menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan seseorang untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri.
Pendekatan konseling client centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Konsep pokok yang mendasari adalah hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri, teori kepribadian,dan hakekat kecemasan. Menurut Roger konsep inti konseling berpusat pada klien adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau pertumbuhan perwujudan diri.
Berikut ini uraian ciri-ciri pendektan Client Centered dari Rogers :
1.    Client dapat bertanggungjawab, memiliki kesanggupan dalam memecahkan masalah dan memilih perliku yang dianggap pantas bagi dirinya.
2.    Menekankan dunia fenomenal client. Dengan empati dan pemahaman  terhadap client, terapis memfokuskan pada persepsi diri client dan persepsi client terhadap dunia.
3.    Prinsip-prinsip psikoterapi berdasarkana bahwa hasrat kematangan psikologis manusia itu berakar pada manusia sendiri. Maka psikoterapi itu bersifat konstrukstif dimana dampak psikoteraputik terjadi karena hubungan konselor dan client. Karena hal ini tidak dapat dilakukan sendirian (client).
4.    Efektifitas teraputik didasarkan pada sifat-sifat ketulusan, kehangatan, penerimaan nonposesif dan empati yang akurat.

Pendekatan ini bukanlah suatu sekumpulan teknik ataupun dogma. Tetapi berakar pada sekumpulan sikap dan kepercayaan dimana dalam proses terapi, terapis dan client memperlihatkan kemanusiawiannya dan partisipasi dalam pengalaman pertumbunhan.
Beberapa asumsi dasar terapi Client Centered:
1.    Individu memiliki kapasitas untuk membimbing, mengatur, mengarahkan, dan mengendalikan dirinya sendiri apabila ia diberikan kondisi tertentu yang mendukung
2.    Individu memiliki potensi untuk memahami apa yang terjadi dalam hidupnya yang terkait dengan tekanan dan kecemasan yang ia rasakan.
Individu memiliki potensi untuk mengatur ulang dirinya sedemikian rupa sehingga tidak hanya untuk menghilangkan tekanan dan kecemasan yang ia rasakan, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan diri dan mencapai kebahagiaan.
Prinsip-prinsip dasar dalam terapi Client Centered :
1.    Kita berperilaku sesuai dengan persepsi kita terhadap realitas. Berkaitan dengan hal ini, untuk memahami masalah klien, maka kita harus benar-benar memahami bagaimana ia mempersepsikannya.
2.    Kita termotivasi oleh dorongan primer bawaan lahir yang berupa dorongan untuk mengaktualisasikan diri. Secara otomatis individu akan mengembangkan potensinya dalam kondisi-kondisi yang mendukung. Kondisi-kondisi ini dapat diciptakan dalam terapi dan oleh karena itu, terapis harus bersikap nondirektif.
3.    Individu memiliki kebutuhan dasar akan cinta dan penerimaan. Dalam terapi, hal ini diterjemahkan sebagai adanya kebutuhan untuk fokus pada hubungan (antara terapis dan klien-red) dan pengkomunikasian empati, sikap menghargai, dan ketulusan dari terapis.
Konsep diri individu bergantung pada penerimaan dan penghargaan yang ia terima dari orang lain. Konsep diri klien dapat ia ubah apabila ia mengalami penghargaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard) dalam terapi.
Karakteristik konseling berpusat pada klien :
1.    Fokus utama adalah kemampuan individu memecahkan masalah bukan terpecahnya masalah.
2.    Lebih mengutamakan sasaran perasaan dari pada intelek.
3.    Masa kini lebih banyak diperhatikan dari pada masa lalu.
4.    Pertumbuhan emosional terjadi dalam hubungan konseling.
Proses terapi merupakan penyerasian antara gambaran diri klien dengan keadaan dan pengalaman diri yang sesungguhnya.
Tujuan Konseling dengan pendekatan Client Centered adalah sebagai berikut :
1.    Menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk mengeksplorasi diri sehingga dapat mengenal hambatan pertumbuhannya .
2.    Membantu klien agar dapat bergerak ke arah keterbukaan, kepercayaanyang lebih besar kepada dirinya,keinginan untuk menjadi pribadi yang mandiri dan meningkatkan spontanitas hidupnya.
3.    menyediakan iklim yang aman dan percaya dalam pengaturan konseling sedemikian sehingga konseli, dengan menggunakan hubungan konseling untuk self-exploration, menjadi sadar akan blok/hambatan ke pertumbuhan.
4.    Konseli cenderung untuk bergerak ke arah lebih terbuka, kepercayaan diri lebih besar, lebih sedia untuk meningkatkan diri sebagai lawan menjadi mandeg, dan lebih hidup dari standard internal sebagai lawan mengambil ukuran eksternal untuk apa ia perlu menjadi.


BAB III
PEMBAHASAN

A.    Identifikasi Masalah
Adapun klien yang dilakukan penanganan konseling terdapat 2 klien yaitu :
1.    Mei, umur 13 tahun kelas 3 SDLBN A Kota Bandung. Kota asal dari Cilacap
2.    Dewi, Umur 11 tahun kelas 3 SDLBN A Kota Bandung. Kota asal dari Kab.Kuningan.
Masalah pada kedua klien ini relatif sama, pada awalnya klien enggan untuk menceritakan keluhannya. Seiring berjalannya dialog akhirnya klien mengemukakan permasalahan yang dialaminya.
Terdapat dua masalah pokok yang dialami klien, yaitu permasalahan yang ada di sekolah (kelas) dan masalah di lingkungan luar.
1.    Sekolah
Masalah yang dialami klien yaitu mereka mengeluhkan sikap gurunya di kelas yang selalu marah-marah ketika sedang KBM. Hal ini dikarenakan teman-teman kelas mereka selalu membuat gaduh, dan guru dalam menenangkan mereka agar tertib dengan cara marah-mara dengan nada yang keras. Sehingga Mei dan Dewi yang tidak melakukan apa-apa pun menjadi terkena imbasnya.
2.    Lingkungan Luar
Masalah yang mereka alami di lingkungan luar adalah mereka suka diejek oleh anak kecil di lingkungan rumahnya. Misal perlakuan buruk yang diterima Mei adalah dia suka diejek yaitu si “buta” dan Dewi pun tidak jauh dari itu.
Dalam hal ini Dewi dan Mei masih belum dapat menerima keadaan yang ada pada dirinya sendiri. Khususnya adalah mereka merasa bahwa ketunaan yang dialaminya adalah sebuah kekurangan dan akibatnya mereka masih kurang percaya diri dalam sosialisasi.
B.    Proses Konseling yang Dilakukan
Pada awalnya Mei dan Dewi enggan untuk diajak dialog (konseling), karena mereka tidak mau menceritakan masalahnya kepada orang lain yang mereka belum kenal dengan baik.
Setelah diajak dengan baik-baik, mereka pun mau tapi hanya sebentar. Penulis pun mencoba mengoptimalkan waktu yang singkat ini untuk mencari tahu masalah apa yang dihadapi klien.
Adapun teknik konseling yang dilakukan adalah dengan teknik empati dan eksplorasi. Penulis mencoba merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien serta untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan dan terancam.
1.    Tahap Awal
Pada tahap ini penulis mencoba membangun hubungan dengan kedua klien. Dengan menanyakan pertanyaan seperti kabar dan sedang sibuk apa. Penulis sedikit demi sedikit mencoba menggali permasalahan yang ada pada klien dan mencoba mendefinisikannya.
Setelah terdefinisikan, penulis mencoba memperjelas masalah klien dan kemungkinan masalah yang akan terjadi dan membangkitkan potensi yang ada pada klien.
2.    Tahap Inti
Penulis mencoba mengeksplorasi masalah klien lebih dalam hal ini dilakukan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya.
Klien pada tahap ini sudah mulai terbuka akan keadaan dan memahami sendiri masalahnya serta sedikit demi sedikit mengetahui potensi yang dimilikinya.


3.    Tahap Akhir
Pada tahap ini penulis mencoba mengarahkan klien solusi apa yang tepat menurut klien terhadap masalah yang dihadapinya. Klien pun disini menyebutkan satu per satu apa yang klien dapat lakukan untuk memecahkan masalahnya.
Klien merasa senang terlibt dalam pembicaraan atau wawancara konseling, serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
Solusi yang klien temukan sendiri bahwa ketunaan yang dialaminya adalah tetap bersemangat baik dalam belajar dan tidak akan mempedulikan omongan-omongan dari luar yang mampu menghambatnya. Seperti ejekan-ejekan yang ada, klien sudah mampu menahan diri agar tidak terpancing dalam kemarahan.
Terkait permasalahan sekolah klien mencoba menjadi model yang baik dalam pembelajaran di kelas, yaitu memperhatikan guru ketika menerangkan dan mengerjakan dengan baik tugas yang diberikan. Walaupun teman-teman yang lain selalu mengganggunya, klien tidak akan terpegaruh lagi dan tidak akan menganggap jika guru marah yang bukan disebabkan oleh kesalahan klien itu sendiri.














BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Permasalahan yang dialami oleh klien terdapat dua permasalahan pokok yaitu masalah di sekolah (kelas) dan masalah di lingkungan luar.
Klien sudah mulai menceritakan permasalahannya dan penulis mencoba mengeksplorasi, sehingga klien mampu memecahkan masalahnya sendiri dengan apa yang klien dapat lakukan.
Dengan hasil pelaksanaan konseling ini solusi yang klien temukan sendiri bahwa ketunaan yang dialaminya adalah tetap bersemangat baik dalam belajar dan tidak akan mempedulikan omongan-omongan dari luar yang mampu menghambatnya.
Terkait permasalahan sekolah klien mencoba menjadi model yang baik dalam pembelajaran di kelas, yaitu memperhatikan guru ketika menerangkan dan mengerjakan dengan baik tugas yang diberikan.

B.    Saran
1.    Harus ada pendekatan yang lebih intensif dengan klien (membangun hubungan dengan klien) agar lebih tereksplorasi lagi masalah lain yang belum klien kemukakan.
2.    Guru harus mampu memahami keluhan siswa yang ada saat pembelajaran, karena dengan guru paham maka akan terbangun interaksi yang baik antara guru dan siswa
3.    Perlunya peranan konselor disekolah agar permasalahan pribadi dan sosial yang dialami siswa mampu dipecahkan sehingga tidak mengganggu semangat belajar siswa di kelas.




Daftar Pustaka


ABKIN (2007). Naskah Akademik: Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas.    
H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press.
Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Inpidual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta
Sudrajat, Akhmad. Proses Konseling. [online] Tersedia: http://images.ikapsi.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SZw8rgoKCGcAABWCOrw1/proseskonseling%5B1%5D.ppt?key=ikapsi:journal:19&nmid=204741351 [Agustus 2010]
Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG
Suherman, Uman AS. (2009). Manajemen Bimbingan dan Konseling.Bandung. Rizqi.
Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. CACING CAWU - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger